Antara Sekolah Terpadu, Alam, dan Negeri

0

Deparenting.com – Pada bulan-bulan di akhir tahun hingga awal tahun, sekolah-sekolah mulai memasang spanduk, menyebar leaflet, menggelar open school, hingga acara diskusi soal parenting. Mengenalkan prestasi sekolah sangat penting saat itu karena menjelang pendaftaran anak didik baru. Mulai dari sekolah favorit sampai sekolah dalam tanda kutip, semua melakukannya.

Saya menyebut sekolah tanda kutip karena saat ini menjamur pendidikan prasekolah yang diadakan di rumah-rumah warga. Biasanya di lingkungan perumahan. Jumlah guru terbatas, demikianhalnya dengan sarana-prasarana penunjangnya. Tapi tak apalah, toh itu merupakan bagian dari upaya mencerdaskan putra-putri kita.

Antara Sekolah Terpadu, Alam, dan Negeri 1

Yahbun pastinya juga sudah familiar, jika saat itu informasi tentang sekolah langsung diburu oleh para orang tua. Terlebih lagi pasangan muda yang berniat menyekolahkan putra-putrinya di jenjang PAUD, TK, atau SD. Mulai dari biayanya, model pembelajarannya, sistem pendekatan pendidikan yang diajarkan, dan yang lebih banyak ingin diketahui perihal prestasi sekolah serta siswanya.

Kalau prestasi menjadi tolok ukur Yahbun dalam mencarikan sekolah bagi si kecil, bisa jadi sekolah terpadu menjadi pilihan tepat. Sekolah Islam Terpadu (IT) misalnya. Kalau bicara jenjang pendidikan SD, maka SDIT tentunya. Sekolah IT lebih menekankan pada prestasi akademis dan itu terlihat dari materi pendidikan yang diajarkan. Kebanyakan dari sekolah ini menganut lima hari sekolah dan full day school. Berangkat pagi dan pulang sore, sehingga anak memiliki banyak waktu untuk memperoleh materi pendidikan. Rata-rata siswa SDIT juga terlihat menguasai materi pelajaran yang diperolehnya.

Suatu saat, saya ada kegiatan di salah satu SDIT di Solo dan harus bermalam di sana. Lantaran penasaran dengan tumpukan buku mata pelajaran, saya masuk salah satu kelas. Ruangan itu milik siswa kelas IV. Luar biasa, mereka diajarkan mata pelajaran matematika menggunakan Bahasa Inggris. Matematika sudah menjadi mata pelajaran sulit, ditambah harus memahami Bahasa Inggris. Dobel tingkat kesulitannya.

Siswa-siswi SDIT juga sering mengikuti lomba-lomba akademis. Biasanya, mereka meraih juara. Mungkin karena pressure dan banyaknya materi pelajaran di sekolah sehingga mereka lebih menguasa sisi akademis dari pada siswa SD lainnya.

Lalu bagaimana dengan sekolah alam? Sekolah model ini memiliki pendekatan lain. Sisi akademis bukan tujuan utama. Sehingga tak jarang, anak-anak yang belum bisa menulis dan membaca tetap diterima. Banyak lho SD yang menolak siswa karena ‘emoh repot’ mengajari menulis dan membaca. Meski sebenarnya ini menyalahi aturan pemerintah.

Bagi sekolah alam, semua siswa di nilai sama.

Guru-guru mereka ditekankan jika tiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka guru dituntut mengeluarkan bakat dan potensi si anak. Maaf, kalau boleh mengibaratkan, anak-anak dalam satu kelas seperti beragam jenis hewan di hutan. Ada yang seperti ikan yang profesional berenang namun tak akan maksimal jika dipaksa hidup di lumpur. Ada yang seperti Kudanil bisa berenang namun tak akan secepat ikan. Tapi kudanil santai-santai saja jika nyebur di lumpur atau saat jalan-jalan di darat. Saat tes, hasil tidak dinilai segalanya. Tidak harus semua mata pelajaran bernilai A. Lantaran masing-masing anak memiliki potensi dan bakat berbeda.

Model pendidikan di sekolah alam biasanya terlihat santai. Tidak sesarat mata pelajaran dan ekstrakurikuler yang diajarkan di sekolah IT. Namun untuk kegiatan yang sifatnya eksperimen, sekolah alam berada di atas sekolah IT. Maka, jika Yahbun berpendapat piala atau piagam penghargaan bukan segala-galanya, melainkan memacu minat dan bakat lebih dulu, sekolah tipe ini bisa jadi lebih pas.

Kalau untuk biaya, kedua jenis sekolah di atas hampir sepadan. Sama-sama menargetkan anak didik dari keluarga perkotaan dengan perekonomian menengah ke atas maka uang sumbangan sekolah maupun SPP tergolong tinggi. Uang masuk bisa di atas Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Sementara uang SPP per bulannya bisa kisaran Rp 300 ribu- Rp 1 juta.

Jika ingin murah meriah, sekolahkan putra putri Yahbun di sekolah negeri. SPP gratis karena sudah ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Murah bukan berarti tak berkualitas. Sebenarnya banyak sekolah negeri yang prestasinya bagus namun memang harus selektif memilihnya.

Syaratnya, Yahbun harus mulai membandingkan antar sekolah negeri di lingkungan tempat tinggal. Serap sebanyak mungkin informasi soal prestasi sekolah dan kualitas gurunya.

Namun, yang menjadi catatan penting saat putra-putri sekolah di SD negeri adalah Yahbun tak boleh melepas begitu saja. Peran orang tua lebih banyak dibutuhkan daripada sekolah alam dan IT. Alasannya, model pembelajaran di sini menyamakan semua siswa. Artinya, semua siswa dianggap memiliki kesamaan kemampuan. Sehingga jika ada anak yang tertinggal pemahaman dalam mata pelaaran maka akan terus tertinggal lantaran guru terus melanjutkan pada tahap pelajaran lainnya.

Oleh karenanya, Yahbun harus mengecek bagaimana pemahaman putra putrinya akan mata pelajaran di sekolah. Ajaklah untuk mengulang pelajaran yang diperoleh di sekolah.

Poin penting dalam memilih sekolah bagi putra putri, Yahbun harus tentukan dulu tujuannya. Setelah itu pilih model pembelajaran yang tepat bagi si anak dan sesuai tujuan awal. Barulah memilih sekolah mana yang di rasa tepat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.