DeParenting.com
  • Login
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga
No Result
View All Result
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga
No Result
View All Result
DeParenting.com
No Result
View All Result
Home Ruang Keluarga

Apa Itu Catcalling, Ternyata Dampaknya Mengerikan Bagi Anak Perempuan

Deparenting by Deparenting
17 Mei 2021
in Ruang Keluarga
17 0
0
Ilustrasi. (DeParenting/Pixabay)

Ilustrasi. (DeParenting/Pixabay)

5
SHARES
209
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

DeParenting – Akhir-akhir ini catcalling menjadi bahasan serius bagi sejumlah psikolog dan perguruan tinggi. Alasannya, dampak catcalling begitu mengerikan bagi anak-anak perempuan. Sesungguhnya apa itu catcalling?

Di mesin pencarian google, cukup banyak yang mencari makna apa itu catcalling. Berikut dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakan catcalling.

RekomendasiBaca

Cerita Lucu Anggota DPRD Jateng Kena Semprot Guru BK SMAN 5 Semarang

Kamu Jebolan Sekolah Ini? Yuk Gabung di Wadah Ikatan Alumni SMAN 5 Kota Semarang

Tak Perlu Minder! Ini Kiat Adaptasi Bagi Eks Napi dari Pengusaha Cantik Solo

Nah berikut penjelasan Psikolog sekaligus Dosen Program Studi (Prodi) Psikologi FK Universitas Sebelas Maret Surakarta, Berliana Widi Scarvanovi mengenai apa itu catcalling dan dampaknya.

Berliana mendefinisikan catcalling sebagai suatu bentuk pelecehan yang mana termasuk kedalam pelecehan seksual. Terdapat beragam bentuk perilaku catcalling yang marak dilakukan pihak tidak bertanggung jawab meliputi komentar bermuatan unsur seksual yang tidak diinginkan, isyarat provokatif, wolf-whistling, hingga pembunyian klakson kendaraan. Menurutnya, catcalling ini sering terjadi di tempat umum seperti transportasi umum, jalan raya, dan pusat perbelanjaan.

Ada perbedaan antara catcalling dengan pujian. Berliana menjelaskan bahwa ada perbedaan energi yang disampaikan antara pihak yang sedang memuji dengan pihak yang melakukan catcalling. Ketika seseorang menyampaikan suatu pujian, terdapat energi positif yang disampaikan sehingga menciptakan suatu perasaan positif bagi pihak yang dipuji. Berbeda dengan pujian, catcalling mendorong menciptakan energi yang negatif.

“Karena ada unsur seksual yang didorong kepada orang lain. Itu menyebabkan adanya energi yang sangat negatif. Itu sebab kita menerimanya secara negatif. Kita tidak menganggap itu sebagai suatu yang positif. Jadi enggak bisa disamakan antara catcalling dengan pujian karena energinya sudah sangat berbeda sekali,” jelas Berliana mengenai apa itu catcalling sebagaimana dikutip dari laman resmi UNS, Senin 17 Mei 2021.

Baca juga:  Aksi Viral Pria Ludahi Pegawai SPBU, Kronologi dan Endingnya Seperti Ini

Berliana juga menyoroti faktor anonimitas menjadi salah satu faktor pendorong orang-orang melakukan perilaku catcalling. Mereka dinilai semakin merasa bebas melakukan catcalling apabila semakin anonim. Adapun faktor lain yang semakin ‘melanggengkan’ perilaku catcalling seperti tidak ada perlawanan oleh korban, adanya Bystander-effect, norma, dan deindividuasi.

Bagi Berliana, perilaku catcalling memang tidak menimbulkan dampak yang besar pada korban. Namun, apabila seseorang menerima catcalling secara terus-menerus tentu akan menjadi potensi munculnya distress psikologis tertentu. Dampak buruk yang mungkin muncul berkenaan dengan citra diri dan kepercayaan diri.

“Dia jadi mempertanyakan tentang dirinya sendiri, merasa tidak percaya diri, atau berkaitan dengan citra dirinya yang menjadi buruk. Itu adalah dampak-dampak yang cukup parah ketika catcalling ini dilakukan dengan frekuensi yang cukup tinggi dan intensitasnya juga cukup tinggi,” ungkap Berliana.

Adapun hal-hal yang dapat dilakukan sebagai upaya preventif dalam mencegah munculnya perilaku catcalling pada seseorang. Salah satunya adalah parenting yang baik oleh orang tua kepada anak. Tidak hanya berfokus untuk anak perempuan saja, namun penting juga untuk anak laki-laki. Adanya perilaku saling menghormati serta empati yang perlu dibentuk menjadi dasar yang baik sebagai upaya mudah dalam pencegahan. Memposisikan diri sebagai korban serta menyadari bahwa suatu hal yang normal belum tentu benar menjadi hal lain yang dapat dilakukan.

Berliana menganjurkan beberapa hal yang bisa dilakukan bagi para korban perilaku catcalling. Korban dapat stands up dengan menjelaskan bahwa catcalling bukan merupakan perilaku yang baik. Namun, hal tersebut perlu mengingat situasi yang sedang terjadi. Situasi yang tidak mendukung untuk stands up akan berpotensi memunculkan perilaku yang lebih berbahaya oleh pelaku.

”Hal lain yang dapat dilakukan adalah meminta pertolongan kepada orang lain atau tidak sendirian apabila berpergian,” ujar Berliana mengenai apa itu catcalling.

Tags: catcallingheadlinepelecehan seksual
Previous Post

Tempat Wisata Jadi Sorotan, Semrawut dan Tak Patuh Prokes!

Next Post

Terus Konsumsi Makanan Enak, Awas Penyakit Mengintai!

Deparenting

Deparenting

Related Posts

Hal-Hal yang Mesti Diperhatikan Saat Pasang Kawat Gigi. (DeParenting/Pixabay)
Lifestyle

Hal-Hal yang Mesti Diperhatikan Saat Pasang Kawat Gigi

14 Juni 2021
Ilustrasi seleksi CPNS. Foto: jatengprov.go.id
News

Ini Formasi Calon ASN Jateng 2021, Cek Syarat dan Tahapannya

2 Juni 2021
Ilustrasi hilang kemampuan penciuman karena Covid 19. (DeParenting/Pixabay)
Ruang Keluarga

Hilang Kemampuan Penciuman Karena Covid 19, Sementara Atau Permanen?

3 Mei 2021
Ilustrasi anak-anak mendengarkan musik. (DeParenting/Pixabay)
Lifestyle

Bolehkah Anak-anak Mendengar Lagu Dewasa? Berikut Penjelasan Psikolog UNS

21 April 2021
Kepala Unit Donor Darah PMI Kota Pekalongan, Ani Sri Rahayu. (DeParenting/Dok. Pemkot Pekalongan)
Lifestyle

Tips Aman Donor Darah Saat Berpuasa Dari PMI

17 April 2021
Ilustrasi jalan tol. (DeParenting/jatengprov.go.id)
News

Mau Mudik Lebaran 2021 Lewat Jateng? Cek Dulu Tiga Skenario Pemerintah

12 April 2021
Next Post
Ilustrasi makanan. (DeParenting/Pixabay)

Terus Konsumsi Makanan Enak, Awas Penyakit Mengintai!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Deparenting
    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.
  • Kata Pengantar
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2021 DeParenting - Berbagi cerita parenting dan home schooling.

No Result
View All Result
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga

© 2021 DeParenting - Berbagi cerita parenting dan home schooling.

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist