Awas Tiga Provinsi Masuk Zona Merah Perkawinan Anak, Ini Empat Alasannya

0

Menurut yahbun, idealnya anak menikah pada usia berapa sih? Umur 20 tahun, 25 tahun, atau 27 tahun? Apaan sih, baru juga membangun rumah tangga. Malah buat artikel seperti ini.
Barangkali yahbun memang baru saja membangun mahligai rumah tangga, sedang asik-asiknya merencanakan pendidikan anak, atau merencanakan program kesehatan bagi si bocil. Tapi tak ada salahnya kan memiliki angan-angan pada usia berapa nantinya si buah hati akan naik pelaminan.

Awas Tiga Provinsi Masuk Zona Merah Perkawinan Anak, Ini Empat Alasanya
Awas Tiga Provinsi Masuk Zona Merah Perkawinan Anak, Ini Empat Alasanya

Terpenting, jangan sampai terlalu dini menikahkan. Karena tren ini ternyata terjadi di sebagian wilayah, bahkan tiga provinsi ini masuk kategori zona merah perkawinan anak. Ngeri banget deh.
Mengapa disebut tren, karena ternyata orang tua lah yang mengajukan dispensasi menikahkan anaknya di bawah umur yang sudah diatur dalam undang-undang. Sesuai UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan batas usia minimal perkawinan perempuan adalah 16 tahun dan laki-laki 19 tahun.

Perkawinan Dini
Perkawinan Dini

Ngerinya, sesuai catatan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah di sepanjang tahun 2016, ada 30.128 anak yang diajukan memperoleh dispensasi menikah di bawah umur oleh orang tuanya pada Pengadilan Agama. Dari jumlah 30.128 permohonan itu, sekitar 2.000 diantaranya disetujui. Sisanya sekitar 28.000-an berujung pada pernikahan siri atau menuakan usia anak agar lolos aturan. Hmm…. berarti ada oknum pengadilan agama yang bermain nih.
Ternyata nih, dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, Grobogan dan Demak menjadi yang paling banyak permohonan dispensasinya. Ada 202 anak di Grobogan dan 67 anak di Demak. Hi….
Data yang hampir sama ada di provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur.
Yahbun, kira-kira apasih penyebabnya. Mengapa para orang tua nekat menikahkan anaknya di bawah umur? Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) setidaknya mencatat ada empat alasan utama.
1.Alasan kemiskinan. Menikahkan anak perempuannya menjadikan orang tua terbebas dari tanggungjawab materi. Orang tua yang memiliki anak perempuan menginginkan anak laki-laki yang bisa membantu bekerja. Hal ini rata-rata terjadi pada orang tua yang bekerja sebagai petani.
2.Rendahnya pendidikan keluarga. Rata-rata orang tua mendidik anaknya sebagaimana orang tua mereka mendidiknya. Artinya, belum maksimalnya upaya pencegahan dari segi pendidikan keluarga. Makanya yahbun, belajar yuk.
3.Pendidikan anak yang tak merata. Letak sekolah yang jauh dan alasan biaya menjadikan orang tua yang rata-rata di desa memilih menikahkan anak perempuannya.
4.Alasan kultur budaya setempat. Banyak yang menganggap anaknya, apalagi perempuan, yang belum menikah pada usia tertentu dinggap tak laku.
Duh…., alasannya mengerikan ya yahbun.
So, usia berapa nih idealnya menikahkan anak?

Baca juga:  Dari Pasir Ris Menuju Jurong East

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.