DeParenting.com – Sekolah menjadi kebutuhan anak-anak. Namun pandemi, membuat pembelajaran jadi serba salah. Mau pembelajaran tatap muka, khawatir anak terpapar Covid 19. Namun jika terus-terusan pembelajaran daring, tak efektif.
Bahkan pembelajaran daring telah membuat banyak orang tua kerepotan. Mulai dari menyita waktu pekerjaan karena harus menemani anak. Sampai meningkatnya stres orang tua karena anak tak juga paham saat diajar materi pelajaran.
Bahkan, statistik menunjukkan jika siswa belajar di rumah, 70% terjadi Konflik dan 30% dilanda kebosanan.
Karena saat ini pembelajaran daring masih berjalan, mari kita tengok tanggapan orang tua.
Sebagian besar orang tua, terutama yang memiliki anak usia SD, merasa keberatan. Tak hanya repot soal waktu dan memahami materi pelajaran, namun teknologi ternyata menjadi persoalan sendiri.
“Menjelaskan ke anak belum tentu bisa langsung dipahami. Gagap teknologi dan boros lagi. Banyak menyita waktu,” kata Liana, salah satu wali murid SD di Pedurungan Kota Semarang.
Cerita seperti itu tak hanya Liana, tapi juga ribuan orang tua di seluruh Indonesia.
Kondisi itu sedikit berbeda dengan orang tua yang memiliki anak kelas SMP atau SMA sederajad. Anak lebih bisa mandiri, sehingga orang tua tidak terlalu kerepotan.
Melihat kondisi riil di lapangan, Komisi X DPR RI telah melakukan pembahasan. Mengenai kapan pembelajaran tatap muka bisa dimulai. Mayoritas anggota Komisi X DPR RI sepakat setelah ada vaksin nanti.
Anggota Komisi X DPR RI, AS Sukawijaya atau Yoyok Sukawi menawarkan dua opsi. Pertama, pembelajaran tatap muka bisa dilakukan. Dengan catatan, ada kepastian penerapan protokol kesehatan dengan ketat. Tak hanya sebatas cuci tangan dengan sabun, pakai masker dan jaga jarak. Namun siswa dan tenaga pendidik mesti di swab berkala.
Detil persyaratan itu mesti dituangkan dalam regulasi oleh Kemendikbud. “Kalau rapid test bisa bocor (tak terdeteksi) itu. Harus swab. Nah yang menjadi persoalan memang anggaran, karena biaya swab mahal,” ujarnya.
Melalui regulasi dari Kemendikbud, lanjutnya, jika memang sekolah tak bisa memenuhi persyaratan maka pembelajaran daring tetap menjadi pilihan. Diakuinya jika pembelajaran daring tak seefektif pembelajaran tatap muka. Namun dalam kondisi pandemi ini, pembelajaran daring tetap menjadi opsi yang terbaik.
Opsi kedua adalah pembelajaran daring sebagaimana yang telah berjalan saat ini. Pembelajaran model ini bisa segera dihentikan dan beralih ke tatap muka jika vaksi telah selesai diproduksi dan siap digunakan.
“Kalau misal vaksin sudah dibagi bulan November ini, pembelajaran tatap muka saat ini juga bisa langsung dimulai,” terang Yoyok.
Bagaimana ayah bunda, pilih anak sekolah daring atau tatap muka nih?









Tinggalkan Balasan