Ngobrol Bareng Kepala Disnaker, Bagaimana Anak Bisa Memenangkan Kompetisi di 10-15 Tahun Kedepan

6

Dunia industri telah berubah. Jika dulu sangat mengandalkan tenaga manusia maka kini sudah bergeser ke zaman revolusi industri 4.0. Butuh strategi untuk memenangkannya.

Berikut catatan deparenting.com saat ngobrol dengan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Wika Bintang.

Ngobrol Bareng Kepala Disnaker, Bagaimana Anak Bisa Memenangkan Kompetisi di 10-15 Tahun Kedepan 1
Kepala Disnakertrans Jawa Tengah, Wika Bintang.
Foto: Deparenting.com

Bagaimana kondisi Jawa Tengah, terkait angkatan kerjanya?

Saat ini jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah mencapai 18 juta orang. Dari jumlah itu, penduduk Jawa Tengah yang telah bekerja sekitar 17-an juta orang. Masih ada sekitar 810 ribu orang yang masih berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Keterbatasan skil yang dimiliki menjadi salah satu faktornya. Selain persoalan informasi angkatan kerja terhadap lowongan pekerjaan dan keterbatasan ketersediaan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

(Sebagai tambahan data, Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2017, jumlah angkatan kerja di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 18,01 juta orang. Sementara jumlah penduduk yang bekerja 17,19 juta orang.)

Cukup banyak yang masih menganggur ternyata?

Memang cukup banyak. Tapi sejauh ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka pengangguran. Diantaranya menjembatani perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dengan angkatan kerja yang membutuhkan pekerjaan. Caranya melalui pameran lowongan pekerjaan atau pelatihan angkatan kerja di Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada di Jawa Tengah.

Mengantisipasi angka pengangguran yang semakin besar, apa yang harus disiapkan oleh para orang tua? Terlebih lagi Indonesia mengalami bonus demografi.

Ada tiga hal.

Pertama, kuasai kemampuan berbahasa asing. Minimal dua bahasa. Lebih baik satu Bahasa Inggris dan satunya Bahasa Mandarin dan Bahasa Jepang. Keduanya sangat dibutuhkan. Apalagi saat ini banyak kebutuhan tenaga kerja dari wilayah Asia Timur seperti China, Jepang dan Hongkong.

Kemampuan bahasa ini memegang peranan penting untuk berkompetisi dengan pencari kerja lainnya. Hal itu juga menjadi salah satu keunggulan. Syukur bisa lebih dari dua bahasa itu. Jelas menjadi keuntungan dan kelebihan tersendiri.

Kedua, kuasai teknologi informasi. Di era saat ini, apalagi masuk pada dunai industri 4.0, kemampuan teknologi informasi begitu penting. Hampir semua pekerjaan bersentuhan dengan teknologi.

Ketiga, komampuan teknis dibuktikan dengan sertifikat kompetensi. Tahun 2019, masyarakat bisa mengikuti uji kompetensi secara gratis melalui Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) yangg biayanya difasilitasi Badan Nasional Sertifikasi. Disnakertrans siap memfasilitasi hal tersebut. Silahkan datang ke layanan publik di Kantor Disnakertrans Jawa Tengah Jalan Pahlawan Nomor 16 Kota semarang.

Maka tiga hal ini menjadi syarat utama jika ingin memenangkan persaingan.

Penting mana antara keduanya atau ijazah pendidikan yang tinggi?

Di Indonesia pendidikan masih menjadi persyaratan. Tapi bagaimanapun tiga hal itu harus dimiliki.

Baca juga:  Bonus Demografi dan Sikap Adaptif Orang Tua

Lain dengan di Jepang, di sana ijazah pendidikan tidak terlalu dipertimbangkan. Bahkan perusahaan tak pernah menanyakan kamu lulusan apa? Pendidikanmu apa? Tidak, tapi kamu bisa apa?

Di Jepang kompetensi teknis ( sertifikat kompetensi ) menjadi syarat penting.

Perusahaan tak mensyaratkan ijazah pendidikan si pelamar pekerjaan?

Di Jepang tidak. Tapi pertanyaan perusahaan pada si pelamar kerja adalah ‘’kamu bisa apa?’’

Misalnya, ada seorang pemuda di Jepang nganggur dan datang ke Dinas Tenag Kerja setempat untuk mencari pekerjaan. Maka dinas akan menanyakan kompetensinya di bidang apa dan apa buktinya.

Setelah itu dinas akan mencarikan peluang ke sejumlah perusahaan yang sesuai. Setelah dijembatani maka si Pelamar pekerjaan datang ke perusahaan dan di tes sesuai kemampuannya. Selesai.

Perusahaan akan memberitahu dinas jika si Pelamar pekerjaan diterima atau tidak beserta alasannya.

Apakah kondisi serupa bisa terjadi di Indonesia?

Mungkin saja.

Dulu seangkatan saya tidak terpikir soal kemampuan bahasa, teknologi dan kompetensi. Tapi bagi angkatan sekarang dan yang akan datang, harus disiapkan. Kalau tidak punya tiga hal tersebut akan ketinggalan dan tersingkir.

Sejak kapan idealnya anak diajarkan dua hal itu?

Sedini mungkin. Kalau masih di bawah 10 tahun kan daya ingatnya masih tinggi.

Apakah kurikulum pendidikan yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan sudah menunjang untuk persaingan pada 10-15 tahun ke depan?

Memang terlambat, tapi saat ini sudah dikejar dan didorong ke sana.

Contohnya seperti apa?

Untuk ketenagakerjaan, Balai Latihan Kerja (BLK) didorong tak mengajarkan kompetensi yang tidak itu-itu lagi.

Contoh, di Balai Besar Pelatihan Kerja (BBPLK) Semarang dulu memiliki tujuh kompetensi diantaranya kelistrikan, logam dan otomotif. Karena kebutuhan industri di Semarang tidak lagi menjajikan maka diganti dg kejuruan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Yaitu fashion technology dan business management dengan mengundang designer tingkat nasional sekaligus dibantu pemasaran serta penempatannya.

Pemerintah mendorong penyesuaian perkembangan dan kebutuhan industri dengan skil tenaga kerja.

Hanya itu?

Sekolah-sekolah vokasi memiliki kebijakan dengan standar kompetensi tingkat nasional. Maka pemerintah juga mendorong penguatan kompetensi dengan bantuan sarana prasarana yang dimiliki sekolah terutama untuk SMK.

Ada pesan yang ingin disampaikan pada orang tua yang saat ini masih memiliki anak balita atau anak yang masih bersekolah SD-SMA?

Beri pendidikan bahasa asing pada anak. Satu lagi, teknologi informasi. Keduanya harus dikuasai anak-anak zaman sekarang. Jika tidak, mereka akan kalah dalam persaingan.

Ngobrol Bareng Kepala Disnaker, Bagaimana Anak Bisa Memenangkan Kompetisi di 10-15 Tahun Kedepan 2
Anak-anak transmigran Jawa Tengah yang kini tinggal di Sepunggur, Bulungan, Kalimantan Utara.
Foto: Deparenting.com

6 KOMENTAR

  1. Wah , hal ini penting untuk diketahui orang tua dan calon orang tua dalam mendidik anak. Orang tua yang sadar akan hal ini akan memudahkan anak dalam berkembang mengikuti perkembangan teknologi, resikonya memang besar, untuk itu orang tua harus berperan aktif dalam mendampingi dan mengawasi anak.

  2. Bermanfaat sekali artikelnya, kita jadi tahu apa saja yang kemampuan yang dibutuhkan anak milenial untuk memenangkan persaingan berburu pekerjaan ya

  3. Sya org awam msh blum paham dgn maksud poin kedua. Kuasai teknologi informasi. Maksudnua seperti apa ya? Mohon penjelasan yg lbh gamblang.. agar kami sbg org tua tdk slh langkah membimbing anak2..??

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.