Bagiku Keluargaku, Bagimu Keluargamu

0

Bagiku Keluargaku, Bagimu Keluargamu 1

Dulu waktu kecil, menjadi polisi saat dewasa adalah ideal. Beranjak remaja, dokter lah profesi paling diimpikan. Beda lagi saat dewasa, wirausaha lah impiannya. Tapi saat semuanya tak jua tergapai, segala pekerjaan yang penting halal. Hehe…

Keinginan dan idealisme sering berubah karena melihat dan membandingkan dengan orang lain. Tak perlu seperti itu sebenarnya. Cukup fokus pada diri sendiri, terlebih lagi kala membangun rumah tangga. Seperti apa keluarga yang ideal? Tanyakan pada diri anda sendiri. Sekali lagi jangan membandingkan dengan keluarga lainnya. Lantaran sesungguhnya setiap keluarga memiliki prinsip dan impinannya sendiri.

Orang tua yang cenderung religius biasanya menginginkan kondisi keluarga yang agamis pula. Anak-anak sekolah di sekolah Islam Terpadu, tinggal di ponpes atau rutin mengikuti kajian serta kelas hafalan Quran. Harapannya anak-anak bisa menjadi hafidz/hafidzah serta berbakti pada Allah dan orang tuanya.

Orang tua yang memiliki karir cemerlang biasanya akan mendidik anak-anaknya dengan menekankan pada nilai-nilai akademis yang bagus. Nilai jadi salah satu tolok ukur seberapa berhasil anak-anaknya kelak.

Beda lagi dengan keluarga wirausaha yang cenderung santai dengan nilai-nilai akademis anak-anaknya. Mereka lebih memilih menyiapkan anak-anaknya menguasai usaha tertentu untuk meneruskan usaha milik keluarga.

Ada juga pepatah orang Jawa yang juga dijadikan pegangan sebagian keluarga, ‘nrimo ing pandum’ atau ‘alon-alon waton kelakon’. Pokoknya dalam hidup tidak perlu aneh-aneh karena semua sudah diatur oleh Yang Kuasa. Sehingga hidup dijalani dengan ikhlas dan lebih relax.

Ada yang salah? Tidak. Itulah keluarga ideal versi masing-masing keluarga. Memiliki keinginan dan tujuan berbeda-beda. Yang salah adalah saat membandingkan keluarga kita dengan keluarga orang lain. Lebih celaka lagi saat kita hanya membandingkan dari sisi prestasinya saja, tanpa melihat usahanya.

Baca juga:  Bonus Demografi dan Sikap Adaptif Orang Tua

Panas dingin saat melihat anak-anak tetangga bisa memperoleh juara ini dan itu sementara anak-anak kita tidak. Padahal mereka memang dipersiapkan untuk prestasi itu, sementara kita tidak. Membandingkan keluarga lain tampak sukses dengan karirnya sementara keluarga kita tidak.

Padahal belum tentu, saat anak-anak kita seperti anak-anak keluarga lain maka kita akan bahagia. Lantaran itu bukan tujuan keluarga kita.

Memang, mencontoh kebaikan keluarga lain sah-sah saja. Tapi sekali lagi, tak perlu membandingkan.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.