Dari Pasir Ris Menuju Jurong East

0

Deparenting.com – Bulan lalu, saya menyusuri hampir ¾ Singapura. Menggunakan MRT, dari Pasir Ris menuju Jurong East. Ada 24 stasiun MRT yang dilewati dan saya beberapa kali turun di diantaranya.
Wow… pikir saya. Bukan soal MRT nya atau titik temu stasiun dengan pusat perbelanjaan dan perkotaan yang memang di tata sedemikian rupa, melainkan eskalatornya. Semula saya tak memperhatikannya. Namun setelah beberapa kali singgah di stasiun dan naik eskalator, barulah menyadari betapa disiplin dan sabarnya orang-orang di sana.

Dari Pasir Ris Menuju Jurong East 1

Siapapun yang menggunakan eskalator seakan wajib berdiri di sebelah kiri. Jika di sebelah kanan, artinya anda harus berjalan di atas eskalator yang berjalan.Artinya, sisi kanan hanya untuk yang mendahului. Baik saat eskalator padat pengguna atau pun sebaliknya. Sama saja. Saya mencoba mengabadikan salah satunya.
Di sana, sangat sulit ditemui orang yang merokok di sembarang tempat. Jika terpaksa tak menemukan ruang khusus perokok, mereka mencari tempat yang sepi. Oh ya, orang-orang Singapura atau para keturunan India sangat menghargai jika anda menawarinya rokok Djisamsu.
Saya dan satu teman Indonesia mampir di salah satu cafe. Karena sangat ramai, si owner ikut melayani. Kebetulan dia menyajikan makanan dan minumam pada kami. Singkat cerita, teman Indonesia saya yang sedang menghisap rokok itu merasa diperhatikan si owner. “Do you want this?” tanyanya. Si owner mendekat dan say yes. Dia mengambil satu batang. Di negerinya Lee Kuan Yew itu, Djisamsu tak beredar. Tak boleh katanya. Kalau ada pun ilegal dan harganya sangat mahal. Kalau di kurs rupiah Rp 90-an ribu per pak. “So I can pay with this if I come another chance,” canda kawan saya dan He said yes.
Abaikan soal rokok, kembali ke disiplin. Saya membayangkan, bagaimana jika Indonesia seperti itu. Mengenakan helm saat berkendara sepeda motor, tak ugal-ugalan, berhenti saat lampu merah dan jalan saat hijau. Lampu kuning yang maknanya hati-hati saja saat ini disalah artikan sebagai tanda penambah kecepatan. Biar tidak kejebak lampu merah katanya. Hmm….

Karena saat ini terlalu banyak contoh tak baik yang mudah ditiru anak-anak.

Saat di jalan raya, banyak pengendara motor tak pakai helm. Berkendara dengan menenteng sebatang rokok menyala di tangan kirinya. Bahkan sesekali percikan api mengenai pengendara di belakangnya. Parahnya lagi, hal itu dilihat langsung oleh anak-anak kita. Bagaimana mereka nantinya tak mencontoh?
Pasti akan sangat menyenangkan jika bisa mencontoh negara tetangga dalam hal disiplinnya. Sangat sulit mendidik anak di lingkungan seperti ini. Paribasan nandur pari bisa jadi tukule suket teki.
Salam.

Baca juga:  Mengapa Anak Miringkan Kepala Saat melihat ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.