Hilangnya TV di Rumah Kami

Mengepak televisi bersama-sama.

Kini, tak ada lagi televisi di rumah kami. Saya bersyukur, menyingkirkannya begitu mudah. Di luar perkiraan saya dan istri. Anak-anak legowo dan mereka juga yang memasukkannya di kardus dan menaruh di gudang.

Sekitar setahun lalu. Televisi telah membuat kami risau. Sebenarnya, tak banyak waktu bagi anak-anak untuk melihat televisi di rumah. Biasanya pagi hari sekitar pukul 07.00 (nonton shiva, upin-ipin dkk), siang hari nonton Si Bolang atau Spongebob dan malam hari usai maghrib dengan nonton tukang ojek pengkolan.

Meski tak kecanduan dengan televisi, kerisauan kami lebih karena anak-anak nonton di jam prime time untuk belajar. Di jam itu lah seharusnya mereka fokus bermain bersama kami, ayah bundanya. Alasan lain, saya begitu khawatir dengan kata-kata khas “Mbelgedes” tokoh Mas Pur di Tukang Ojek Pengkolan dan gaya ngambek salah satu tokoh yang selalu mengatakan brrrrr… dengan mimik kedua bibir bergetar. Celakanya, kedua anak kami mengimitasinya. Entah pendidikan negatif apalagi yang akan mereka tiru jika kami biarkan.

Suatu saat, sekitar 7-8 bulan lalu, kami sampaikan pada Gaza (my daughter). “Mbak, what do you think if we put off the TV and put it in to gudang?” we ask.

“Why?” She wants an explanation.

Kami berusaha menjelaskan dengan bahasa dia. Pertama, akan lebih baik jika Mbak banyak membaca. Tuh kan bukunya banyak. Jika nanti ingin nonton kartun, bisa di komputer. Wisy (my son) pun nimbrung. Keduanya sepakat untuk menaruh TV di gudang.

Bahagia rasanya. Tapi saya dan istri tak segera mengeksekusi. Kami berdiskusi lagi dan ternyata kamilah yang belum siap untuk menghilangkan TV. Lho kok? Bukan karena ada acara yang kami sukai… eh tapi ada juga sih. Liga Inggris atau Liga Champions…. yang football lovers pasti tahu rasanya tim kesayangan main dan disiarkan televisi tapi ndak bisa nonton. Hehehe….

Tapi bukan itu alasannya kami menunda menghilangkan TV. Kami sadar, itu membutuhkan konsekuensi. Jika TV kami hilangkan, maka kami harus mengganti TV dengan permainan yang pas untuk anak-anak. Sangat tidak mungkin jika tak ada TV dan kami menyuruh anak-anak membaca buku sendiri dan terus menerus. Mereka akan bosan dan mencari pelampiasan, entah marah-marah atau bikin onar di rumah. Oh ya… Gaza saat ini berusia 6,5 tahun dan Wisy 3,5 tahun.

Baca juga:  Tips Menangani Si Bandel di Usia Toddler

Kami lah yang mesti membuat permainan baru dan bermain bersama. Akhirnya kami menundanya sekitar setengah tahun.

Barulah awal November lalu kami benar-benar merealisasikan niatan untuk menghilangkan TV. Kami ajak anak-anak untuk berembug kembali dan mereka sepakat. Saya ambil kardus TV dan keduanya membantu melepas kabel-kabel serta memasukkan ke gudang.

Horeee….

Keesokan harinya, Wisy menyebut saya ayah nakal. “Why Wis?” I ask. “Because ayah took the TV set,” hehehehe…. Saya dan istri senyam senyum saja.

Main mobil-mobilan dengan jalanan dari karton.

Karena kami sadar konsekuensinya, keduanya kami ajak main. Membuat rumah-rumahan dan kebun, peternakan dari kertas karton. Membuat maninan mobil-mobilan beserta jalannya. Bermain bersama Broken, Flopsi dan Mopsi (nama-nama kelincinya), membersikan rumah dan memberi makan si Gani dan Nemo (ikan cupang) dan Rogi (hamster).

Saat jenuh, kami ajak keduanya main di peternakan kambing dan angsa. Atau kegiatan lain yang direncanakan malam hari dan dieksekusi pagi harinya — sepedaan di Kampus Undip, memberi makan rusa… Jika sudah asyik demikian, Wisy tak menanyakan lagi soal TV.

Tapi paling banyak kegiatan yang dilakukan adalah baca buku. Dan dalam beberapa pekan terakhir, mereka selalu minta new books. But its OK. Itu bagian dari konsekuensi regulasi di rumah kami. Bye bye TV…..

Salam.

Latest posts by Hanung Soekendro (see all)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.