Jangan Memaksa Ulat Melompat

0

Deparenting.com – Tarzan, si penguasa hutan hendak pergi ke kota. Ia bosan dengan kehidupan di hutan. Setelah membulatkan hati, ia memanggil semua hewan di hutan untuk memilih siapa yang pantas menjadi penggantinya. Menjadi penguasa hutan.

Jangan Memaksa Ulat Melompat 1

Auo….. Tarzan memanggil sejawatnya. Macan, gajah, kuda, kudanil, babi hutan, ular, kodok, capung , kelelawar, singa, jerapah, ikan, ulat, zebra datang. Berkumpul di tanah lapang di dekat sungai.

Si Tarzan pun mengutarakan niatnya. Semua sedih tapi merelakan. Namun untuk menentukan siapa yang pantas menggantikannya cukup rumit.
Semula Tarzan memberikan syarat pada penggantinya haruslah bisa teriak paling keras. Tapi syarat itu ditolak ular yang hanya bisa mendesis, dan kelelawar yang hanya bisa bersuara cit…cit…. Sementara ikan hanya bisa berkecupak di air. Karena jika dipaksakan, ular, kelelawar, dan ikan akan terlihat bodoh seumur hidupnya.

Syarat diganti. Harus pelari yang cepat. Kodok dan ulat menolak. Harus bisa melompat cepat dan jauh, jerapah menolak. Syarat cepat memanjat pohon juga dianggap tak adil oleh ikan dan kodok.

Karena tak ada yang sanggup menggantikannya, Tarzan berpikir ulang untuk meninggalkan hutan yang sudah menjadi rumahnya.

Ayah bunda, cerita itu sedikit banyak menggambarkan bagaimana tak adilnya sekolah formal bagi anak-anak sekarang. Si Farah yang suka dan pandai menyanyi, harus bisa mengerjakan tes soal-soal sejarah. Si Latif yang menyukai hewan-hewan, dipaksa harus bisa mengerjakan soal cerita perkalian. Bahkan tak hanya satu atau dua mata pelajaran yang sebenarnya tak mereka minati, tapi di paksa untuk dikerjakan dengan sempurna.

Padahal, kita tahu seorang Usain Bolt yang berulang kali juara lari itu tak akan bisa menjadi Ian Thorpe yang punya gaya khas saat berenang. Atau seorag Buffon bisa jadi tak akan bisa memaksimalkan potensinya jika dipaksa menjadi Ronaldo. Meski sama-sama bermain sepakbola, namun mereka memiliki kemampuan berbeda.

Seorang anak yang dipaksa menguasai semua mata pelajaran sepertinya akan membuat dia tak nyaman di sekolah.

Satu-satunya alasan dia mau sekolah bisa jadi karena hanya ingin bertemu dengan kawan-kawannya. Bukan tertarik dengan mata pelajaran. Belum lagi jika guru yang mengajarkan membosankan. Lonceng bel pulang sekolah akan terdengar sangat lama.

Baca juga:  Bagiku Keluargaku, Bagimu Keluargamu

Lalu bagaimana untuk adil pada pendidikan anak, spesifiklah. Tidak masalah jika menyekolahkan anak di sekolah formal. Tapi ingatlah, nilai 8,9, bahkan 10 bukanlah tolok ukur keberhasilan pendidikan anak. Melainkan seberapa paham dirinya akan pelajaran yang di dapat. Fokuskan si anak pada satu atau dua materi yang disukai dan berikan perhatian lebih. Maka ia akan expert.

Anak yang suka ngegame, bisa diarahkan jadi game developer. Suka makan, bisa jadi food tester. Apalagi kalau suka ngopi, banyak tuh yang butuh tester kopi. Suka utak atik komputer, bisa jadi progammer.

Ingat, satu kemampuan yang dipelajari secara profesional akan lebih berharga daripada mengetahui banyak hal namun hanya rata-rata.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.