Jangan Tekankan Kompetisi, Ajari Anak Kolaborasi

0

DeParenting.com- Yahbun, pernah ajak anak ikut lomba? Lomba menyanyi, melukis, menggambar, mewarnai, piano, atau robot… seberapa sering Yahbun mengajak anak ikut kompetisi?

Saat anak masih kecil, sebaiknya jangan terlalu sering. Lho, mengapa? Kan itu meningkatkan kemampuan anak?

Iya memang benar. Kompetisi memang menjadi salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana kemampuan anak. Menunjukkan apa yang ia bisa, melatih keberanian tampil di muka umum, serta memberikan padanya rasa kepercayaan diri. Apalagi jika menang.

Ada dua sisi negatif jika terlalu sering mengajak anak berkompetisi. Pertama, hal itu akan menjadikan pola pikirnya menang dan menang. Ia beranggapan, satu-satunya cara untuk menunjukkan eksistensi adalah menjadi nomor satu. Sementara orang atau tim lain adalah kompetitor yang harus dikalahkan. Apalagi jika orang tua sudah menanamkan kalau si anak harus juara. Kalau juara akan diberikan hadiah dan kalau sampai kalah maka akan mendapatkan hukuman. Seakan-akan dunia anak-anak akan kiamat saat kalah berkompetisi.

Maka, apapun akan di lakukannya. Tujuannya adalah menang. Sehingga, mereka akan berorientasi pada hasil dan bukan pada proses belajar atau berlatihnya. Padahal, saat usia anak-anak mestinya mereka belajar nilai-nilai kerja keras, kejujuran, disiplin.

Begini, agar Yahbun menekankan pada nilai dan menghargai proses latihan, sesekali datanglah ke tempat latihan para petinju. Lihat bagaimana mereka berlatih sebelum naik ring. Tak hanya mengasah hug, jab, uppercut nya, petinju mesti melatih staminanya. Berlari, sit up, angkat beban secara kontinyu. Belum lagi jika seorang petinju kelebihan berat badan sesuai aturan di kelasnya, maka harus menurunkan berat dan ini sangat menguras energi. Saat bertanding di ring, kalah atau menang itu merupakan konsekuensi dari latihan yang dilakoni sebelumya.

Atau jangan-jangan… menghalalkan berbagai cara untuk menang memang sudah tertanam di sekeliling kita. Atau diri kita juga pernah menjadi pelakunya. Misal, saat di bangku sekolah dulu, bawa contekan saat ujian. Tahu itu salah, tapi karena tuntutan untuk juara maka tetap melakukannya. Tujuan sekolah saat itu adalah nilai dan bukan proses belajarnya.

Baca juga:  Tipe-Tipe Parenting, Cocok Yang Mana?

Sisi negatif kedua adalah kompetisi bisa jadi tak akan lagi sesuai dengan metode mencapai kesuksesan di masa mendatang. Saat masih zaman revolusi industri yang kuat adalah pemenang. Namun saat ini, seiring perkembangan teknologi maka yang kuat akan membutuhkan yang lemah. Mereka tak akan bisa bekerja sendiri.

Di saat itu siapa yang memiliki jaringan paling kuat dan paling banyak akan memenangi kompetisi. Jaringan ini memiliki keterikatan dan saling membutuhkan serta memiliki tujuan yang sama.

Kalau boleh mencontohkan, saat ini banyak warung makan atau produk yang berkembang dengan sistem franchise atau waralaba. Si owner asli produk tersebut mau membagi nama produknya pada orang lain. Apakah rugi? Jelas tidak. Nama produknya akan semakin moncer dan penjualanya akan semakin meningkat.

Hal yang sama dilakukan oleh beberapa media yang mengakuisisi media lain. Televisi mengakuisisi media online, cetak danbahkan televisi lainya sehingga berbentuk jejaring. Bukan untuk berkompetisi, melainkan saling suplai konten dan melengkapi. Sehingga cost produksi bisa lebih ditekan.

Nah, Yahbun… sebenarnya mengikutsertakan anak berkompetisi itu bagus-bagus saja. Asalkan, harus ditekankan lebih dulu mengenai penghargaan pada proses belajar. Menang bukan tujuan utamanya.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.