Keluarga Home Team, Keluarga Telenovela

0

Akhir-akhir ini banyak postingan yang sibuk membahas keluarga home team. Janjane ya opo seh. Saat baca, koyok keluarga neng telenovela. Rak ono cek cok e, padu-padune babar blas. Apik kabeh. Bapak sabar, ibu penyayang dan bisa mendidik anak dengan benar. Lha anaknya, kabeh nurut. Oh ya, sing jelas kebutuhane urip sajake wis kecukupi kabeh. Haha…

Keluarga Home Team, Keluarga Telenovela
Keluarga Home Team, Keluarga Telenovela

Bagaimana mewujudkan keluarga mirip di telenovela itu? Rak gampang alias angel.

Pertama, harus sevisi. Bagi yang masih singel, silakan membuat keluarga imajinasi yang semuanya indah-indah. Begitu pula dengan pasangan baru. Karena saat anak-anak nanti lahir, sudah semakin kompleks persoalannya.

Visi harus dibentuk bersama. Suami istri harus tahu apa tujuan keluarga dan step-step menuju tujuan tersebut. Biar gampang, tulis dan jabarkan lebih detil.

Kedua, masing-masing harus paham dengan kewajiban dan haknya. Nah ini nih yang berat. Masing-masing kadang mendahulukan ego. Semula membayangkan keluarga telenovela kenyataanya jadi keluarga OH Mama Oh Papa. Ajurrr…

Si bapak, namanya juga laki-laki, berkewajiban memberikan nafkah lahir. Lho kok bisa? Secara fisik laki-laki diciptakan lebih kuat dari pasangannya. Secara fitroh, laki-laki juga tak mengandung. Maka, kalau ada laki-laki menyuruh si istri kerja dan turut menikmati hasil kerjanya ya…. sedikit keibuan mungkin. Lha terus apa tidak berkewajiban mendidik anak? Ya harus. Tapi ibarat sekolahan, bapak mirip kepala sekolahnya. Dia pengambil kebijakan. Dia juga mengajar dan bertatap muka dengan murid-muridnya tapi jam mengajar lebih sedikit dari guru.

Nah, peran si guru ini menjadi kewjaiban istri. Mendidik anak adalah peran utama. Kerja boleh saja sih, tapi mendidik anak harus menjadi prioritas. Tapi jangan sampai capek kerja jadi alasan tak mendidik anak ya.

Baca juga:  Bagiku Keluargaku, Bagimu Keluargamu

Seperti tim sepak bola. Striker juga harus ikut bertahan saat timnya diserang. Tapi posisinya bisa jadi tak sedalam bek. Lantaran striker tetap harus menjaga stamina dan menempatkan posisi yang tepat jika sewaktu-waktu menerima umpan untuk serangan balik dan mencetak gol.

Lalu bagaimana jika peran keduanya terbalik? Misal, istri kerja dan pendapatannya lebih tinggi dari suami. Kembali lagi ke visi keluarga. Jika sepakat, why not. Tapi yang perlu dicatat adalah, seorang pemain sepakbola bertipikal striker tak akan bisa menjadi defender yang mumpuni. Jika dipaksakan bisa saja nanti melakukan blunder atau cidera. Karena secara karakter, skill, dan saat berlatih ia memang berposisi menyerang. Demikian juga sebaliknya.

Apakah kalau suami istri sudah sevisi pasti berhasil jadi home team? Belum. Lha wong tim sepak bola yang setiap hari latihan saja juga kebobolan dan kalah. Jika kondisi seperti itu, tak perlu saling menyalahkan. Cukup evaluasi bersama.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.