Keluarga Jerman yang Disiplin dan Pendidikan yang Simpel

0

Keluarga Jerman yang Disiplin dan Pendidikan yang Simpel 1Pukul 03.00, suara adzan subuh dari aplikasi handphone membangunkan Vania Alyanissa. Salat subuh menjadi awal serangkaian kegiatan menantangnya. Meski masuk sekolah pukul 08.00, ia harus sudah selesai menyiapkan diri setidaknya satu jam sebelum itu. Bukan karena jalanan macet, namun jangan pernah meninggalkan sarapan bersama keluarga Jerman.

Vania merupakan satu dari 19 siswa SMA Negeri 5 Semarang yang mengikuti program pertukaran pelajar di Heinrich-Heine-Gymnasium Hamburg Jerman. Beda Semarang, beda pula Hamburg. Dua kota dengan masing-masing sistem pendidikan, budaya, makanan, hingga adat kebiasaan masyarakatnya. Seperti kaget dengan kebudayaan baru, shock culture.

Ia tinggal bersama ‘orangtua singgah’ di Jerman yang telah ditunjuk oleh sekolah setempat. Satu  ‘orang tua singgah’ menampung satu siswa Indonesia. “Jangan pernah meninggalkan sarapan dan makan malam. Bagi keluarga Jerman, itu momen penting  banget untuk bertemu dan berdiskusi bersama,” kata Siswi kelas 12 IPA VI ini.

Vania berangkat ke sekolah menggunakan sepeda kayuh. Cukup 10 menit sudah sampai. Sekolah di sana sudah menerapkan sistem zonasi. Persis yang dilakukan Semarang pada tahun ini. Sehingga jarak rumah siswa dengan sekolah dekat.

Bahkan Maria Dionisya Gerarda Despriani, siswi lainnya, kurang dari 10 menit sudah sampai sekolah walau dengan jalan kaki. Sementara Fathia Nur Anisa berangkat menggunakan bus sekolah. Yang perlu di catat, tak ada siswa yang membawa sepeda motor atau mobil.

Mata pelajaran wajib di sana tak bejubel seperti di sekolah Indonesia. Hanya ada 8-9 mata pelajaran wajib, matematika, Bahasa Inggris, kimia, fisika, olahraga, seni, Bahasa Jerman, Biologi. Lainya boleh pilih, Bahasa Spanyol, Perancis atau Latin, serta pilih mata pelajaran politik, agama atau filsafat. Oh ya, dalam sepekan, mereka sekolah Senin-Jumat dan normalnya pukul 08.00-13.20. Tapi setidaknya ada dua hari long day karena mata pelajaran tambahan pilihan sehingga pulang pukul 15.30.

Selama di sekolah, vania belum pernah menemui tindakan bullying. “Kalau bercanda sih iya. They say ‘ni hao’, mungkin mengira saya dari China,” kata Vania yang memang bermata sipit ini.

Tiga pekan berada di sana, Maria Dionisya Gerarda Despriani seperti bermimpi. Memperoleh orang tua asuh berprofesi pilot, ia diajak terbang dengan pesawat kecil berkeliling langit Hamburg. Namun satu hal yang ia ingat kuat adalah budaya disiplinnya. “Kalau bilang sampai rumah jam 19.00, ya harus tepat. Telat itu hal yang memalukan dan sangat tidak disukai,” kata Maria.

Setiap remaja yang berusia 18 tahun, lanjutnya,  juga bisa tinggal mandiri dan berpisah dari orang tuanya. Tapi ia sedikit shock saat mengetahui budaya di sana yang membolehkan remaja usia 14 berhubungan sex dan legal meminum bir di usia 16 tahun.

Keluarga Jerman yang Disiplin dan Pendidikan yang Simpel 2
Fathia, Vania, dan Maria

Keluarga Jerman yang Disiplin dan Pendidikan yang Simpel 3

Tiga pekan di Hamburg, mereka tak hanya senang-senang. Namun juga dibebani dengan misi mengenalkan keindahan budaya Indonesia dan hidup bertoleransi di Indonesia. Hal itu disampaikan perwakilan siswa pertukaran pelajar, Rayhan Dhany Rahardian. Saat di Hamburg, siswa menampilkan drama tentang tata cara pernikahan dengan adat Jawa lengkap dengan bermain gamelan. Setiap siswa juga diminta mempresentasikan kekayaan dan kebudayaan lokal di kelas. Seperti tarian, obat tradisional, tempat pariwisata. Dengan bahasa Inggris tentunya.

Sebaliknya, 10 siswa Heinrich Heine Gymnasium Hamburg juga mengikuti pertukaran pelajar di SMA 5 Semarang. Namun karena mereka baru di Semarang per 9 Oktober dan belum mengikuti pelajaran, belum banyak yang bisa diceritakan. “Saat di pesawat, udara seperti tak ada bedanya. Tapi saat keluar, di sini sangat panas. Di Jerman 20 derajat (celcius) atau kurang, di sini lebih dari 30 derajad. Tinggal di Semarang harus pakai AC,” kata siswa Arne Laudel, siswa kelas 10.

Namun hampir tiga hari di Semarang, Arne telah berkeliling dan menilai Semarang sangat padat kendaraan. Ia juga mencicipi soto maupun sate. “its so spicy,” katanya.

Kepala SMA Negeri 5 Semarang, Titi Priyatiningsih mengatakan pertukaran pelajar ini memang program kedua belah pihak dan siswanya berada di Jerman pada 21 Agustus- 13 September 2018. Tujuanya, mengenalkan dan menambah wawasan di era globalisasi. Semarang dipilih karena mereka menilai penduduknya besar dan bisa bertoleransi padahal banyak suku dan agama.

Dalam menyeleksi siswa, sekolah melakukannya ekstra ketat. Karena siswa harus pintar, fasih berbahasa Inggris, serta memiliki materi untuk keberangkatan. Sementara untuk biaya tinggal dan makan sudah ditanggung orang tua singgah.

Orang tua yang anaknya ikut pertukaran pelajar, maka selanjutnya menjadi orang tua singgah bagi satu siswa Heinrich Heine Gymnasium Hamburg. “Rumahnya pun harus selektif. Model WC duduk, kamar mandi ada shower dan ada AC nya. Seleksi ini yang harus ketat. Siswa mampu secara intelektual dan orang tuanya juga mampu materi,” katanya.

Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen mengapresiasi program pertukaran pelajar ini. Banyak hal yang bisa dipelajari siswa di Kota Semarang. Bukan hanya tentang mata pelajaran di sekolah, tetapi juga bagaimana kondusivitas kehidupan masyarakat, berbagai nilai dan norma, kekayaan seni budaya, sumber daya alam Jateng dan pariwisatanya.

Wagub mengatakan, budaya Indonesia termasuk Jawa Tengah begitu majemuk. Tetapi masyarakat dapat hidup berdampingan secara harmonis. Indonesia juga negara yang sangat toleran dengan keberagaman suku, agama, dan bahasa daerahnya.

Keluarga Jerman yang Disiplin dan Pendidikan yang Simpel 4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.