DeParenting.com
  • Login
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga
No Result
View All Result
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga
No Result
View All Result
DeParenting.com
No Result
View All Result
Home Article

Kisah 5 Desa Organik di Semarang, Terapkan Hukuman Makan Ular dan Kodok Hidup

Desa organik di Semarang ini unik. Kejam dalam hukuman hingga bisa memenuhi semua kebutuhannya sendiri.

Deparenting by Deparenting
12 Oktober 2020
in Article
32 0
0
Petani Paguyuban Kelompok Tani Al Barokah Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, mengolah pupk organik untuk mendukung program desa mandiri organik. Foto: Deparenting.com

Petani Paguyuban Kelompok Tani Al Barokah Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, mengolah pupk organik untuk mendukung program desa mandiri organik. Foto: Deparenting.com

26
SHARES
300
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

DeParenting.com – Cerita unik sekaligus kejam menyertai perjalanan lima desa organik di Kabupaten Semarang. Bagaimana kisah dan desa mana saja, berikut lima desa organik itu.

Menanam secara organik, itu sudah biasa. Tapi kalau mencukupi semua kebutuhan penanaman organik secara mandiri, baru luar biasa. ‘Buat apa beli jika bisa buat sendiri’ pun menjadi slogan 582 petani yang tergabung dalam Paguyuban Kelompok Tani Al Barokah Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Bahkan, kini mereka mendorong dibuatnya Peraturan Desa (Perdes) Tanaman Organik.

RekomendasiBaca

Hasil Riset: Skil Teknologi Bagus Akan Miliki Pekerjaan Ideal

WOW! Ini Jumlah Pemuda di Jateng, Terus Nambah Tiap Tahun

Jalan Kaki Rembang-Semarang 5 Hari, Lapor Pencemaran Lingkungan ke Ganjar Pranowo

Tangkap pencari ular dan kodok di sawah, petani Desa Ketapang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang menjadi buah bibir. Bukan persoalan penangkapannya, melainkan sanksi yang diberikan pada si penangkap hewan. Dia dipaksa memakan hasil tangkapannya di sawah saat itu juga. Jika tak mau, orang tersebut dibawa ke Polsek dan membuat pernyataan tak mengulangi perbuatannya.

“Itu cerita dulu. Sekitar tahun 2011. Sekarang sudah tidak berani. Sudah sadar pentingnya rantai makanan pada tanaman organik,” kata Ketua Paguyuban Kelompok Tani Al Barokah Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang, Mustofa.

Hewan Sahabat Petani

Hewan di sawah adalah teman para petani di lima desa organik di Semarang. Yakni di Kecamatan Susukan. Yaitu  Desa Organik Ketapang, Timpik, Kenteng, Sidoharjo, dan Koripan. Kodok, ular, belalang, tikus, nyamuk, belut hidup dalam rangkaian jaring kehidupan yang berujung pada kelestarian tanman di sawah. Salah satu rantai makanan berkurang atau hilang maka akan berpengaruh pada rantai makanan lainya.

Ujungnya, kualitas dan kuantitas hasil panen sawah akna juga berpengaruh. Sebanyak 582 petani di paguyuban tersebut meyakininya. Itulah yang membuat keberhasilan paguyuban yang berdiri semenjak 1998. Bahkan mereka mendorong dibuat Perdes kemandirian tanaman organik.

Kemandirian dan kedaulatan mereka dimotori oleh Mustofa. Pria lulusan S1 Pendidikan Agama Islam IAIN Salatiga ini telah mulai menanam padi secara organik sebelum berdirinya paguyuban. Pentingnya kesehatan dan menjaga kelestarian alam menjadi alasan utama melaksanakan tekadnya mewujudkan desa mandiri organik. Ilmu bercocok tanam ia peroleh saat mengikutisejumlah pelatihan.

Penanaman organik tak boleh setengah-setengah. Jika benih sudah organik maka sebisa mungkin pupuk dan pestisidanya pun juga organik. Percobaanya berhasil menjadikan para petani yang merupakan tetangganya mengikuti. Satu petak tanah bertambah menjadi dua, sepuluh, dan saat ini total lahan ada 126,24 hektare. Lahan pertanian organik tersebar di lima desa dan dikelola oleh 16 kelompok tani di bawah Paguyuban Kelompok Tani Al Barokah.

Baca juga:  WOW! Ini Jumlah Pemuda di Jateng, Terus Nambah Tiap Tahun

Wujudkan Kedaulatan Pangan

Lebih dari 20 tahun semenjak berdirinya paguyuban, keinginan Mustofa untuk menciptakan kedaulatan  petani terwujud. Kini, tak ada lagi petani organik yang membeli bahan-bahan pertanian. Pupuk organik membuat sendiri, termasuk pestisida organik. Sehingga jikadi daerah lain petani sibuk dengan kuota pupuk bersubsidi maka di Susukan, petani tinggal olah dan ambil sendiri. Bahan pupuk dari kotoran sapi yang diproses fermentasi.

Cara produksinya, dibuat secara bersama-sama oleh anggota di tiap kelompok tani.  Jumlah produksinya disesuaikan dengan jumlah kebutuhan pertanian. Demikianhalnya dengan pestisida. Jenisnya bermacam-macam yang terbuat dari empon-empon. Manfaatnya disesuaikan dengan peruntukannya. Misalnya, untuk menganggulangi tanaman dari hama serangga dan ulat maka buah gadung diolah dengan dicampur mahoni dan buah mojo.

Hasil olahan kemudian diproses distilasi dan menjadi cairan kental. Setelah dicampur air lalu disedmprotkan ke tanaman. Jika serangga mati, tanaman yang terkena cairan justru memperoleh tambahan nitrogen sebagaimana yang terkandung dalam pupuk NPK.

Panen Tanaman Organik

“Untuk pertama kali penanaman organik, hasil panen lebih rendah jika dibandingkan dengan menggunakan pupuk pada umumnya. Karena kondisi tanah belum pulih. Tapi setelah beberapa kali panen, hasil bisa hampir sama. Tapi keuntungan pada margin harganya. Hampir dua kali lipat jika dibanding hasil panen padi anorganik. Kalau Organik, Rp 15 ribu/Kg dan anorganik Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu. Hasil lebih menjanjikan,” kata Mustofa.

Untuk penjualan beras organik, hasil panen petani dibeli oleh paguyuban. Selanjutnya Paguyuban menjual pada pedagang atau konsumen secara langsung. Beras yang diproduksi beragam, seperti menthik wangi, pandan wangi, cisokan, beras merah, melati, beras hitam.

Tak tanggung-tanggung, kini penjualan beras organik sudah sampai Jabotabek, Surabaya, Semarang, Solo dan bahkan Aceh, Lampung, dan Sulawesi. Selain padi, petani juga menanam kacang-kacangan dan jagung secara tumpang sari di pematang sawah.

Tags: desa organikheadlinekabupaten semarangorganik
Previous Post

Solusi Atasi Depresi, Konsumsi Informasi ”Sehat”

Next Post

Sekolah Virtual, Upaya Tekan Angka Anak Putus Sekolah

Deparenting

Deparenting

Related Posts

Hal-Hal yang Mesti Diperhatikan Saat Pasang Kawat Gigi. (DeParenting/Pixabay)
Lifestyle

Hal-Hal yang Mesti Diperhatikan Saat Pasang Kawat Gigi

14 Juni 2021
Ilustrasi seleksi CPNS. Foto: jatengprov.go.id
News

Ini Formasi Calon ASN Jateng 2021, Cek Syarat dan Tahapannya

2 Juni 2021
Ilustrasi. (DeParenting/Pixabay)
Ruang Keluarga

Apa Itu Catcalling, Ternyata Dampaknya Mengerikan Bagi Anak Perempuan

17 Mei 2021
Ilustrasi hilang kemampuan penciuman karena Covid 19. (DeParenting/Pixabay)
Ruang Keluarga

Hilang Kemampuan Penciuman Karena Covid 19, Sementara Atau Permanen?

3 Mei 2021
Ilustrasi anak-anak mendengarkan musik. (DeParenting/Pixabay)
Lifestyle

Bolehkah Anak-anak Mendengar Lagu Dewasa? Berikut Penjelasan Psikolog UNS

21 April 2021
Kepala Unit Donor Darah PMI Kota Pekalongan, Ani Sri Rahayu. (DeParenting/Dok. Pemkot Pekalongan)
Lifestyle

Tips Aman Donor Darah Saat Berpuasa Dari PMI

17 April 2021
Next Post
Gubernur Ganjar Pranowo melaunching kelas virtual pada SMAN 1 Kemusu, Boyolali dan SMAN 3 Brebes, Selasa (13/10). Foto: Istimewa.

Sekolah Virtual, Upaya Tekan Angka Anak Putus Sekolah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Deparenting
    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.
  • Kata Pengantar
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2021 DeParenting - Berbagi cerita parenting dan home schooling.

No Result
View All Result
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga

© 2021 DeParenting - Berbagi cerita parenting dan home schooling.

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist