DeParenting.com – Cerita unik sekaligus kejam menyertai perjalanan lima desa organik di Kabupaten Semarang. Bagaimana kisah dan desa mana saja, berikut lima desa organik itu.
Menanam secara organik, itu sudah biasa. Tapi kalau mencukupi semua kebutuhan penanaman organik secara mandiri, baru luar biasa. ‘Buat apa beli jika bisa buat sendiri’ pun menjadi slogan 582 petani yang tergabung dalam Paguyuban Kelompok Tani Al Barokah Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Bahkan, kini mereka mendorong dibuatnya Peraturan Desa (Perdes) Tanaman Organik.
Tangkap pencari ular dan kodok di sawah, petani Desa Ketapang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang menjadi buah bibir. Bukan persoalan penangkapannya, melainkan sanksi yang diberikan pada si penangkap hewan. Dia dipaksa memakan hasil tangkapannya di sawah saat itu juga. Jika tak mau, orang tersebut dibawa ke Polsek dan membuat pernyataan tak mengulangi perbuatannya.
“Itu cerita dulu. Sekitar tahun 2011. Sekarang sudah tidak berani. Sudah sadar pentingnya rantai makanan pada tanaman organik,” kata Ketua Paguyuban Kelompok Tani Al Barokah Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang, Mustofa.
Hewan Sahabat Petani
Hewan di sawah adalah teman para petani di lima desa organik di Semarang. Yakni di Kecamatan Susukan. Yaitu Desa Organik Ketapang, Timpik, Kenteng, Sidoharjo, dan Koripan. Kodok, ular, belalang, tikus, nyamuk, belut hidup dalam rangkaian jaring kehidupan yang berujung pada kelestarian tanman di sawah. Salah satu rantai makanan berkurang atau hilang maka akan berpengaruh pada rantai makanan lainya.
Ujungnya, kualitas dan kuantitas hasil panen sawah akna juga berpengaruh. Sebanyak 582 petani di paguyuban tersebut meyakininya. Itulah yang membuat keberhasilan paguyuban yang berdiri semenjak 1998. Bahkan mereka mendorong dibuat Perdes kemandirian tanaman organik.
Kemandirian dan kedaulatan mereka dimotori oleh Mustofa. Pria lulusan S1 Pendidikan Agama Islam IAIN Salatiga ini telah mulai menanam padi secara organik sebelum berdirinya paguyuban. Pentingnya kesehatan dan menjaga kelestarian alam menjadi alasan utama melaksanakan tekadnya mewujudkan desa mandiri organik. Ilmu bercocok tanam ia peroleh saat mengikutisejumlah pelatihan.
Penanaman organik tak boleh setengah-setengah. Jika benih sudah organik maka sebisa mungkin pupuk dan pestisidanya pun juga organik. Percobaanya berhasil menjadikan para petani yang merupakan tetangganya mengikuti. Satu petak tanah bertambah menjadi dua, sepuluh, dan saat ini total lahan ada 126,24 hektare. Lahan pertanian organik tersebar di lima desa dan dikelola oleh 16 kelompok tani di bawah Paguyuban Kelompok Tani Al Barokah.
Wujudkan Kedaulatan Pangan
Lebih dari 20 tahun semenjak berdirinya paguyuban, keinginan Mustofa untuk menciptakan kedaulatan petani terwujud. Kini, tak ada lagi petani organik yang membeli bahan-bahan pertanian. Pupuk organik membuat sendiri, termasuk pestisida organik. Sehingga jikadi daerah lain petani sibuk dengan kuota pupuk bersubsidi maka di Susukan, petani tinggal olah dan ambil sendiri. Bahan pupuk dari kotoran sapi yang diproses fermentasi.
Cara produksinya, dibuat secara bersama-sama oleh anggota di tiap kelompok tani. Jumlah produksinya disesuaikan dengan jumlah kebutuhan pertanian. Demikianhalnya dengan pestisida. Jenisnya bermacam-macam yang terbuat dari empon-empon. Manfaatnya disesuaikan dengan peruntukannya. Misalnya, untuk menganggulangi tanaman dari hama serangga dan ulat maka buah gadung diolah dengan dicampur mahoni dan buah mojo.
Hasil olahan kemudian diproses distilasi dan menjadi cairan kental. Setelah dicampur air lalu disedmprotkan ke tanaman. Jika serangga mati, tanaman yang terkena cairan justru memperoleh tambahan nitrogen sebagaimana yang terkandung dalam pupuk NPK.
Panen Tanaman Organik
“Untuk pertama kali penanaman organik, hasil panen lebih rendah jika dibandingkan dengan menggunakan pupuk pada umumnya. Karena kondisi tanah belum pulih. Tapi setelah beberapa kali panen, hasil bisa hampir sama. Tapi keuntungan pada margin harganya. Hampir dua kali lipat jika dibanding hasil panen padi anorganik. Kalau Organik, Rp 15 ribu/Kg dan anorganik Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu. Hasil lebih menjanjikan,” kata Mustofa.
Untuk penjualan beras organik, hasil panen petani dibeli oleh paguyuban. Selanjutnya Paguyuban menjual pada pedagang atau konsumen secara langsung. Beras yang diproduksi beragam, seperti menthik wangi, pandan wangi, cisokan, beras merah, melati, beras hitam.
Tak tanggung-tanggung, kini penjualan beras organik sudah sampai Jabotabek, Surabaya, Semarang, Solo dan bahkan Aceh, Lampung, dan Sulawesi. Selain padi, petani juga menanam kacang-kacangan dan jagung secara tumpang sari di pematang sawah.









Tinggalkan Balasan