DeParenting.com – Meski pandemi, banyak warga yang abai pada Covid 19. Coba lihat di pasar, masih banyak yang tak mengenakan masker. Ada yang bawa masker, namun tak dipakai.
Kesadaran akan bahaya Covid 19 masih jauh dari harapan. Padahal sosialisasi telah masif dilakukan. Entah itu di tingkat keluarga, RT, RW hingga tingkatan pemerintahan di atasnya. Sayangnya, sekali lagi hasil belum terlihat maksimal.
Mereka yang terjaring operasi gabungan penegakan protokol kesehatan pencegahan Covid 19, masih sangat tinggi.
Coba tengok catatan Satpol PP Jateng sebagai pelaksana operasi gabungan penegakan protokol kesehatan pencegahan Covid 19 periode 24 Agustus-12 Oktober 2020. Ada 96.039 orang di Jateng terjaring. Mereka terjaring di tempat-tempat dengan potensi kerumunan, seperti jalan raya, objek wisata, pasar tradisional. Tak mengenakan masker menjadi pelanggaran paling banyak.
Ketua Fatayat NU Jateng yang juga menjabat sebagai anggot DPRD Jateng, Tazkiyatul Muthmainnah tak habis pikir. Cukup susah meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya Covid 19 dan perlu upaya ‘’memaksa’’ mereka menerapkan protokol kesehatan.
“Saya beberapa kali ikut sosialisasi protokol kesehatan di pasar ya. Kenyataanya, pada tidak pakai masker. Ada juga yang bawa, tapi tidak dipakai,” kata wanita yang akrab di sapa Iin ini dalam diskusi melalui aplikasi zoom.
Jika dipetakan, beragam peraturan dan program telah diluncurkan oleh pemerintah mulai April hingga Oktober 2020. Dimulia dari Jogo Tonggo hingga sanksi bagi mereka yang melanggar.
Karena secara riil kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan sulit makai ia sepakat jika penerapan sanksi dilaksanakan.
Apa saja itu? Sesuai kebijakan masing-masing kepala daerah di kabupaten/kota. Ada daerah yang sanksinya penahanan identitas diri, ada yang kerja sosial, ada juga yang denda Rp 20 ribu kemudian meningkat jadi Rp 50 ribu.
“Kalau saya lihat, masyarakat itu takut kehilangan uang Rp 50 ribu daripada sakit atau menulari orang lain. Setidaknya memberikan efek jera. Agar taat protokol kesehatan serta melindungi diri sendiri dan orang lain,” katanya.
Tak kalah penting lagi adalah upaya sosialisasi tetap harus dilakukan namun kali ini bisa menggandeng kaum perempuan. Menurutnya, kaum ibu menjadi promotor yang kuat di lingkungan keluarga. Bisa mengatur dan mengingatkan suami serta anak-anaknya.









Tinggalkan Balasan