Menakar Kesulitan Pasien Rawat Jalan

0

BPJS Kesehatan menjadi berkah bagi pasien dari keluarga tak mampu. Obat maupun kamar perawatan free alias tak dipungut biaya sepeser pun. Tapi, tahukah bagaimana proses yang dilalui pasien-pasien itu sebelum mendapatkan perawatan? Memang mudah, tapi tak murah.

Menakar Kesulitan Pasien Rawat Jalan 1
salah satu pasien memanfaatkan pelayanan Rumah Sehat Mandiri di Kota Semarang.

Tujuh bulan sudah Rodhiyah indekos di Kota Semarang. Jauh-jauh dari Lampung, ia harus menemani suaminya, Darmin, yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit rujukan di RSUP Dr Kariadi Kota Semarang. Darmin menederita tumor di kepalanya.

Kenapa indekos? Darmin merupakan pasien rawat jalan yang harus menjalani pemeriksaan rutin. Idealnya, bapak 54 tahun itu kembali ke Lampung lebih dulu. Bertemu dengan anak cucu sebelum menjalani pengobatan berikutnya. Bisa naik pesawat terbang, kapal atau bus. Tapi karena biaya pas-pasan, ia pun memilih indekos.

Memilih kamar pas-pasan di Kampung Pelangi yang berdekatan dengan rumah sakit, Rodhiyah harus merogoh kocek Rp 500 ribu per bulannya. Tujuh bulan, artinya sudah Rp 3,5 juta ia keluarkan.

Belum lagi biaya untuk makan keseharian, beli detergen untuk cuci baju, maupun naik grab/gocar dari indekos menuju rumah sakit dan sebaliknya.

“Untuk pengobatan dan makan sehari-hari, semuanya lah selama tujuh bulan sudah habis Rp 45 juta. Keperluan paling banyak ya untuk makan,” kata ibu 50 tahun ini.

Namun, dalam enam hari ini keduanya sedikit bisa bernafas lega. RSUP Dr Kariadi bekerjasama dengan Rumah Sehat Mandiri yang menyediakan rumah singgah bagi pasien rawat jalan. Rumah Sehat Mandiri berada di Jalan Kintelan Baru Nomor 69 RT 2 RW 2 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang.

Rumah Sehat yang didirikan Mandiri Amal Insani Foundation tersebut ditujukan bagi pasien luar kota yang menjalani rawat jalan di RSUP Dr Kariadi. Untuk sementara memang baru bekerjasama dengan satu rumah sakit tersebut. Kenapa mesti pasien luar kota, agar meringankan beban biaya tinggal.

Misalnya, pasien A berasal dari Purworejo harus melakukan kemoterapi sebulan sekali di RSUP Dr Kariadi. Maka, keluarga pasien dan pasien bisa tinggal di rumah sehat tersebut beberapa hari sebelum maupun sesudah menjalani kemoterapi. Dan mereka bisa mendaftar lagi pada bulan berikutnya saat akan kemoterapi lagi.

Syarat dan fasilitas

Apa saja syarat untuk mendapatkan fasilitas Rumah Sehat mandiri? Ada tiga syarat, memiliki BPJS kelas III, menunjukkan surat keterangan tidak mampu, dan memperoleh pengantar dari RSUP Dr Kariadi. Syarat tambahannya, pasien tidak mengidap penyakit menular. Dalam sekali daftar, pasien dan keluarganya bisa tinggal maksimal tiga bulan.

Baca juga:  5 Tips Cek Kesehatan Mata Anak

Kepala Mandiri Amal Insani Foundation Perwakilan Jateng dan DIY, Yopie Bagus Hermawan mengatakan Rumah Sehat Mandiri Semarang memiliki delapan kamar dan ukurannya cukup luas. Masing-masing kamar hanya diperuntukkan bagi satu pasien dan satu keluarga yang mendampingi.

Fasilitas lain adalah dua kamar mandi, ruang konseling, ruang tengah cukup besar untuk bersantai, musala, tempat jemur pakaian, hingga dapur. Di ruang dapur juga memiliki fasilitas komplet. Seperti kulkas, kompor, penanak nasi, gelas, piring, panci, termos air.

Pihaknya juga menyediakan bahan makanan dan sayuran mentah. Masing-masing keluarga pasien bisa masak sesuai selesar lidah, karena biasanya beda asal maka beda pula selera makanannya.

Untuk mencukupi semua kebutuhan tersebut, pihaknya menyediakan anggaran Rp 8,5 juta per bulannya. Semua anggaran bersumber dari pengelolaan zakat. Rumah sehat juga menyediakan fasilitas transportasi pasien menuju RSUP Dr Kariadi. Sehingga semakin meringankan biaya.

Selama tinggal d Rumah Sehat Mandiri, pasien maupun keluarga diajak untuk mengikuti kajian Islam secara rutin. Mereka juga bisa mengikuti bimbingan konseling guna menambah motivasi. Sekadar curhat terkait permasalahan yang dihadapi pun juga bisa. Itu saja? Tidak, ada program piknik di lokasi-lokasi wisata sekitar. Semisal Masjid Agung Jawa Tengah dan Lawang Sewu.

Pengurus Mandiri Amal Insani Foundation Pusat, Mangatas Simanjuntak mengatakan Rumah Sehat Mandiri di Kota Semarang merupakan kali pertama di Jawa Tengah. Biasanya banyak tantangan dari lingkungan di sekitar rumah sehat yang bau didirikan. Salah satu kekhawatiran warga adalah adanya penyakit menular.

Namun Mangatas menekankan jika semua pasien yang tinggal di Rumah Sehat Mandiri bukan penderita penyakit menular. Hal itu didasarkan pada surat keterangan yang diberikan oleh pihak rumah sakit.

Menakar Kesulitan Pasien Rawat Jalan 7
foto bersama pengurus foundation dan perangkat kelurahan.

PKK Sambut Antusias

Jika di provinsi lain bayak tantangan, di Semarang justru berbeda. Tim Penggerak PKK Kelurahan Bendungan justru menerima dengan tangan terbuka. Bahkan jika memungkinkan warganya bisa ikut berpartisipasi menyediakan kamar-kamar singgah bagi pasien.

Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Bendungan, Sri Retno Kusumawati rupanya melihat Rumah Sehat Mandiri dari sisi ekonomi. Semakin banyak warga luar kota yang datang dan tinggal maka akan semakin banyak bahan pangan mentah atau makanan siap saji yang dibutuhkan. Artinya, potensi ekonomi masyarakat sekitar bisa diuntungkan. Semisal dengan membuka warung kelontong atau warung makan.

Menakar Kesulitan Pasien Rawat Jalan 8

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.