Mendewasakan Anak Dengan Prinsip Kausalitas

0

Mendewasakan Anak Dengan Prinsip Kausalitas 1Setiap orang tua pasti senang jika putra putrinya telah dewasa. Sesekali childish (bersikap kekanak-kanakan) boleh lah, tapi dewasa pasti menjadi harapan. Bisa mandi sendiri, memilih baju yang pas sendiri, menata mainanya dan beribadah tanpa disuruh, belajar mandiri, atau makan tepat waktu.

Jika bisa melakukan itu di usia-usia anak sekolah dasar, wow… menyenangkan rasanya. Orang tua pasti bangga.

Untuk mendewasakan anak tentu butuh proses. Tidak bisa simsalabim di malam hari dan berhasil di pagi harinya. Perlu berbulan-bulan bahkan bisa memakan waku tahunan. Tak ada patokan pasti kapan anak menjadi dewasa. Ketelatenan orang tua dalam mengajarkan menjadi kunci kapan kedewasaan anak akan tumbuh. Saat kedewasaan muncul maka akan terlihat dari sikap kesehariannya.

Apa yang mesti dilakukan orang tua untuk hal itu. Salah satunya selalu mendidik putra putrinya dengan kausalitas atau prinsip sebab akibat. Setidaknya begitulah makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Bagaimana anak bisa memahami kausalitas? Tentu bukan kausalitas secara leksikal yang orang tua mesti ajarkan, namun penerapannya dalam kehidupan keseharian. Mengandung makna sebab-akibat maka anak harus diajarkan jika semua hal yang dilakukan akan menyebabkan hal lain atau disebabkan oleh hal lainnya pula.

Misalnya, saat anak diajak diskusi memilih baju model A atau B, warna A atau B dan si Anak menjawab tanpa alasan pasti maka bisa jadi dirinya belum dewasa. Kecuali si anak memang masih terlalu kecil dan tidak terbiasa dilatih untuk mengungkapkan pendapatnya.

Apalagi kalau anak dengan sikap sewenang-wenang memilih untuk membeli dua baju sekaligus A dan B padahal sudah diberitahu jika uang tidak cukup. “Pokoknya beli ini sama ini”. Kata pokoknya kadang muncul. Ini lebih jelas menandakan dirinya masih kekanak-kanakan.

Dalam prinsip kausalitas mengajarkan apa saja yang dilakukan akan memiliki konsekuensi. Semisal, seseorang diajak makan sambal dirinya tidak mau. Saat ditanya, mengapa tidak mau? Karena perutnya akan sakit. Kalau sakit terus kenapa? Maka akan sering ke toilet misalnya.

Saat ditanya, mengapa tidak mau makan Sambal? Karena perutnya akan sakit. Kalau sakit terus kenapa? Maka akan sering ke toilet. Kemudian tak bisa main lama dengan teman-teman. Ini prinsip sederhana kausalitas. Sebab-Akibat.

Maka saat anak diajak belajar membaca tidak mau maka jangan dipaksa. Pahamkan jika dirinya tidak mau belajar membaca maka bagaimana dirinya nanti saat mendapat pesan Whatsapp dari temanya. Bagaimana saat bermain komputer, mencari file misalnya. Atau bisa juga saat dapat uang dari nenek maka bagaimana ia bisa tahu itu uang berapa.

Baca juga:  Awas! Salah Beri Nama, Bisa Ganggu Psikologi Anak

Saat anak tidak mau mandi, jangan langsung dipaksa lepas baju dan ditarik ke kamar mandi. Ceritakan jika keringat di tubuh bisa menyebabkan gatal saat tidak dibersihkan.

Sama juga saat anak minta jajan terus menerus, minta pelihara hewan piaraan tapi tak mau merawat, mainan air terlalu lama. Semuanya bisa dijelaskan secara prinsip kausalitas.

Melalui langkah ini sama juga dengan mengajak anak untuk berpikir kedepan. Tidak asal-asalan untuk melakukan sesuatu.

Sekali lagi hal ini tak mudah dan butuh kesabaran. Tak bisa dilakukan dalam semalam. Tak bisa pula dibandingkan antara satu anak dengan anak lainnya. Beda otak beda karakter. Namun orang tua harus bersabar dan konsisten dalam mendewasakan anak.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.