Mendidik Mereka di Rumah

0

Mendidik Mereka di Rumah 1

Namanya Gazza Gazzetta (5,4 tahun). Punya adik Birru Darwisy (2,7 bulan). Hampir 24 jam dalam sepekan, keduanya selalu bersama. Makan, tidur, mandi, mainan lego, main alphabet, sepedaan maupun saat mendengarkan cerita. Jika salah satu tidak ada di rumah, atau sedang berpisah, masing-masing selalu menanyakan. Tentu, si Bungsu bertanya dengan bahasanya. Aca…? Mungkin hanya ayah bunda dan kakaknya yang bisa memahami.

Saat bepergian, sudah berulang kali si Kakak menerima pertanyaan. Sudah sekolah belum? Sekolah di mana? Kelas berapa? Jika dulu jawaban dari kakak adalah kelas satu atau dua, dan sekolah di jauh, sekarang sudah berbeda. Seiring bertambahnya usia, si kakak sudah mulai menjawab sekolah di rumah. Lho, gurunya? Ayah sama bunda.

Ayah bundanya memang menyiapkan sekolah di rumah bagi keduanya. Homeschooling kalau bahasa ngetrennya. Jika sesuai rencana, keduanya mungkin tidak merasakan pendidikan formal. Meski sampai saat ini sudah beberapa kali ia main ke sekolah TK. Si Bunda yang kali pertama memunculkan niatan mendidik buah hati dengan cara itu. Saat itu si kakak masih berusia setahunan.

Pendidikan model apa itu, tanya ayahnya kala itu. Tanpa mengenyam sekolah formal? So?! Setelah sekian lama berdiskusi, akhirnya si Ayah lebih memahami pendidikan di rumah bagi keduanya. Logikanya, sebenarnya sekolah formal dan pendidikan di rumah lebih dulu pendidikan di rumah. Pada zaman rosulullah belum ada sekolah formal. Pendidikan diberikan di rumah dan lingkungannya berupa madrasah-madrasah atau kalau zaman sekarang mungkin seperti tempat kursus. Itu pun hanya mempelajari ilmu-ilmu tertentu yang tak bisa diajarkan secara maksimal oleh ayah-bundanya.

Baca juga:  Jadwal Homeschooler Semester Kedua (Usia 5-6 Tahun)

Sementara di homeschooling, ayah bunda menjadi aktor utama pedidik. Sementara anak menjadi subjek pendidikan. Sekali lagi, mereka adalah subjek dan bukan objek. Alasanya, mereka bisa menentukan materi permainan/pelajaran apa yang dimaui. Kapan dan dimana pun sesuai keinginan mereka.

Misalnya, mengenalkan bentuk huruf menggunakan lagu dan nyanyian kesukaan dia. Mainan warna menggunakan kertas warna kesukaanya. Pengalaman ayah bundanya, tidak sampai dua kali permainan, si Kakak sudah bisa menghafal 10-15 huruh lebih. Bahkan sudah bisa menuliskan beberapa diantaranya. Wow…. Bagi anak lain, mungkin hal ini biasa. Tapi bagi ayah bundanya Gaza, ini menggembirakan. Lantaran si Kakak memang baru saja dikenalkan huruf-huruf.

Pada intinya, model seperti ini membuat mereka senang dan fokus pada permainan/pelajaran. Sehingga materi yang disampaikan bisa cepat diterima. Bukan sekadar dihafal tapi paham. Bagi ayah dan bundanya, inilah salah satu keuntungan homeschooling.

Menurut ayah bundanya, ini model pendidikan terbaik yang diupayakan. Bisa jadi, keluarga lain tak bisa disamakan. Masing-masing keluarga memiliki role model kesuksesan yang berbeda-beda. Maka sudah sewajarnya, pola pendidikan anak pun akan berbeda pula.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.