Mengenal Narkolepsi, Si Penyebab Kantukan

0

Hidup harus berjalan secara seimbang. Ada saatnya bekerja, bersantai, main, masak, dan beristirahat. Lalu apa jadinya jika seseorang ingin istirahat tidur melulu. Tak kenal tempat dan waktu. Jangan-jangan terserang narkolepsi. Si penyebab rasa kantuk yang teramat sangat.
Satu dari 2.000 orang mengalami narkolepsi, yang diklasifikasikan sebagai gangguan tidur. Gangguan rasa kantuk bahkan tidur kronis di siang hari yang luar biasa. Serangan tidur yang terjadi tiba-tiba inilah yang disebut dengan narkolepsi. Orang dengan narkolepsi sering mengalami kesulitan tetap terjaga selama jangka waktu tertentu.

Mengenal Narkolepsi, Si Penyebab Kantukan
Mengenal Narkolepsi, Si Penyebab Kantukan

Penderita narkolepsi mengalami kantuk di siang hari yang berlebihan bahkan ada juga yang sampai jatuh tertidur saat siang hari. Serangan tidur yang tiba-tiba ini terjadi dalam setiap jenis kegiatan di sepanjang hari.
Kantuk yang berlebihan banyak dialami orang di Indonesia dengan derajat yang bervariasi, Dari yang hanya menguap, hingga kekurangan konsentrasi. Narkolepsi sebenarnya termasuk kelompok gangguan otak jangka panjang. Kondisi ini terbilang langka. Narkolepsi biasanya dimulai pada usia remaja dan awal usia dua puluhan.
Apa Penyebab Narkolepsi?
. Narkolepsi adalah penyakit tidur yang menyerang sistem pengaturan tidur R. Tidur R adalah tahapan tidur dimana manusia kebanyakan bermimpi. Akibat gangguan ini terjadi kekacauan antara kondisi terjaga dan mimpi. Bisa dikatakan seorang penderita narkolepsi tak benar-benar lelap saat tidur dan tak benar-benar terjaga saat bangun. Beberapa ahli berpikir narkolepsi mungkin disebabkan oleh kurangnya produksi hypocretin oleh otak. Penderita narkolepsi memiliki kadar hypocretin yang rendah. Hypocretin itu neurotransmitter yang mendorong agar manusia tetap terjaga.
Penyebab pasti narkolepsi tidak diketahui. Genetika mungkin memainkan peran. Faktor-faktor lain, seperti infeksi, stres atau terkena racun, dapat berkontribusi pada pengembangan narkolepsi.

Pola tidur normal vs narkolepsi
Proses tidur normal dimulai dengan fase yang disebut non-rapid eye movement (NREM) atau tidak ada pergerakan mata. Selama fase ini, gelombang otak cukup melambat. Setelah satu atau dua jam tidur dalam fase NREM, aktivitas otak kembali lagi, dan terjadi rapid eye movement (REM) atau pergerakan mata dimulai. Proses Bermimpi Kebanyakan terjadi selama fase REM. Nah, dalam fase ini narkolepsi mungkin tiba-tiba masuk ke dalam tidur seseorang tanpa terlebih dahulu mengalami fase tidur NREM, baik di malam hari dan siang hari. Beberapa karakteristik fase tidur REM, seperti kurangnya kelenturan otot, kelumpuhan tidur atau sleep paralysis dan mimpi yang jelas,
Peran zat kimia di otak hypocretin adalah zat kimia penting dalam otak yang membantu mengatur agar tubuh terjaga dan mengatur fase tidur REM. Apa sebenarnya yang menyebabkan hilangnya hypocretin yang memproduksi sel di otak belum diketahui, Namun para ahli menduga itu karena reaksi autoimun. Berikut ini kondisi yang dapat memicu seseorang terkena gangguan autoimun yang pada akhirnya bisa mengarah pada narkolepsi.
• Perubahan hormon, terutama saat pubertas atau menopause
• Cacat genetic
• Infeksi streptokokus
• Infeksi flu

Berikut ini beberapa faktor yang dapat merusak bagian otak penghasil hypocretin:
• Tumor otak
• Cedera di kepala
• Penyakit ensefalitis
• Penyakit sklerosis multipel

Gejala Gejala narkolepsi
Gejala-gejala narkolepsi dapat memburuk selama beberapa tahun pertama, dan kemudian bekelanjutan seumur hidup. Gejala-gejalanya termasuk rasa kantuk berlebihan di siang hari. Karakteristik utama narkolepsi adalah mengantuk luar biasa dan keinginan tak terkendali untuk tidur siang. Orang dengan narkolepsi tertidur tanpa peringatan, di mana saja, kapan saja. Misalnya, tiba-tiba terkantuk-kantuk saat bekerja atau berbicara dengan teman. Tetridur selama beberapa menit atau sampai setengah jam, bangun dan merasa segar, tetapi akhirnya tertidur lagi. Mengalami penurunan kewaspadaan sepanjang hari. Kantuk di siang hari yang berlebihan biasanya adalah gejala pertama yang muncul dan menyulitkan, sehingga sulit untuk berkonsentrasi dan bekerja dengan maksimal.

Gejala khas narkolepsi ada empat, yaitu hipersomnia, lumpuh tidur, halusinasi hipnagogic dan katapleksi. Hipersomnia adalah kantuk yang berlebihan. Hipersomnia pada narkolepsi adalah yang paling berat.
– Hipersomnia rasa kantuk berlebih di siang hari.
Rrasa kantuk berlebih di siang hari atau disebut excessive daytime sleepiness (EDS) secara umum bisa mengganggu aktivitas normal sehari-hari. Entah orang tersebut mengidap narkolepsi ataupun tidak. Orang yang mengalami EDS melaporkan bahwa mereka mengalami gangguan mental, kekurangan energi dan konsentrasi, keadaan tertekan, atau kelelahan ekstrim. Karakteristik utama narkolepsi adalah mengantuk luar biasa dan keinginan tak terkendali untuk tidur siang. Mengalami penurunan kewaspadaan sepanjang hari.
– Paralisis (Kelumpuhan tidur)
Gejala ini melibatkan ketidakmampuan sementara untuk bergerak atau berbicara saat tidur atau bangun. Kejadian ini umumnya berdurasi singkat, berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit. Setelah tahap akhir, orang biasanya bisa memulihkan kapasitas penuh mereka dengan cepat untuk bergerak dan berbicara. Jelasnya orang dengan narkolepsi sering mengalami ketidakmampuan sementara untuk bergerak atau berbicara saat tidur atau setelah bangun. Kelumpuhan tidur ini seperti kelumpuhan sementara yang biasanya terjadi selama fase tidur gerakan mata cepat (REM), fase dimana proses mimpi terjadi. Tidak semua orang dengan kelumpuhan tidur memiliki narkolepsi. Namun, banyak orang tanpa narkolepsi mengalami beberapa kejadian kelumpuhan tidur, terutama di masa dewasa muda.
-Halusinasi hypnopompic
Biasanya, pengalaman delusional ini sangat jelas dan menakutkan. Isinya sangat visual tapi bisa juga melibatkan indera lain. Hal ini disebut halusinasi hypnagogic ketika terjadi saat tidur dan halusinasi hypnopompic ketika terjadi saat terbangun dari tidur
-Cataplexy
Gejala ini ditandai dengan melemasnya otot secara mendadak. Otot yang melemas sehingga menyebabkan kepala menunduk, mulut membuka, menjatuhkan barang-barang, Bisa juga keseluruhan otot tubuh. Keadaan ini dipicu oleh lonjakan emosi, baik itu rasa sedih maupun gembira. Biasanya emosi positif lebih memicu katapleksi dibanding emosi negatif. Pada sebuah penelitian penderita narkolepsi diajak menonton film komedi, dan saat ia terpingkal-pingkal tiba-tiba ia terjatuh lemas seolah tak ada tulang yang menyangga tubuhnya.
Kesalahpahaman Terhadap Kondisi Narkolepsi
Narkolepsi dapat menyebabkan masalah serius baik secara profesional dan pribadi. Orang lain mungkin melihat hal ini sebagai malas, lesu atau tak sopan. Kinerja di lingkungan kerja dan sekolah mungkin juga akan memburuk karena narkolepsi. Kantuk ekstrim dapat menyebabkan dorongan seks rendah atau impotensi. Orang dengan narkolepsi bahkan bisa tertidur saat berhubungan seks. Masalah yang disebabkan oleh disfungsi seksual menjadi lebih buruk karena pengaruh emosi. Perasaan kuat seperti marah atau sukacita, dapat memicu beberapa tanda-tanda narkolepsi seperti cataplexy, menyebabkan orang menarik diri dari interaksi emosional. Serangan tidur dapat mengakibatkan cedera fisik pada orang dengan narkolepsi. Peningkatan risiko kecelakaan mobil meningkat jika serangan tidur terjadi saat mengemudi.

Baca juga:  Temukan Potensi, Tanya Cita-Citanya dan Arahkan

Komplikasi Narkolepsi
Berikut ini dampak narkolepsi yang mungkin bisa terjadi
• Obesitas akibat kurang gerak dan sering tidur.
• Cedera apabila kantuk datang di situasi yang tidak tepat (misalnya saat sedang mengemudi).
• Penilaian negatif dari lingkungan sosial (misalnya Anda dicap pemalas) dan rusaknya hubungan dengan orang lain.
Perawatan dan Pengobatan
Diagnosis narkolepsi diperlukan pemeriksaan tidur secara khusus. Umumnya pemeriksaan tidur dilakukan malam hari saja. Namun untuk narkolepsi diperlukan tambahan pemeriksaan multiple sleep latency test (MSLT) yang dilakukan pagi hingga sore setelah pemeriksaan tidur satu malam. Pemeriksaan tidur dilakukan di laboratorium tidur dengan menggunakan alat berupa polisomnografi (PSG). Polisomnografi sendiri sebenarnya merupakan pemeriksaan EEG (gelombang otak), nafas, oksigen dan jantung (EKG) yang dijadikan satu. Jadi, pasien akan diminta untuk menginap dengan dilekatkan pada sensor-sensor. Tapi jangan bayangkan laboratorium tidur sebagai tempat menyeramkan yang penuh dengan peralatan elektronik. Sebaliknya, laboratorium tidur sangatlah nyaman. Pemeriksaan tidur malam diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit-penyakit tidur lain. Paginya, dilanjutkan dengan pemeriksaan MSLT, dimana pasien diminta kembali tidur berulang kali. Seluruhnya ada 5 tidur siang yang berjarak satu setengah sampai dua jam.
MSLT bertujuan untuk melihat seberapa mengantuknya seseorang dengan menghitung waktu yang dibutuhkan untuk tidur, atau biasa disebut sleep onset. Misalkan ia diminta tidur pukul 09.00, lalu tertidur jam 9:15 berarti sleep onset-nya adalah 15 menit. Selain itu, dilihat juga begitu tertidur maka masuk dalam tahap tidur apa. Dikatakan positif menderita narkolepsi bila seseorang rata-rata jatuh tidur lebih cepat dari 5 menit, atau terdapat dua tidur siang dimana begitu tertidur langsung masuk tahap tidur R.
Sayangnya, sampai saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan narkolepsi. Adanya, adalah obat-obatan untuk meredakan gejala. Seperti obat untuk cegah katapleksi dan halusinasi hipnagogik. Serta obat untuk mengatasi kantuk. Pengobatan narkolepsi tergantung dari tingkat keparahannya. Jika gejalanya ringan, teknik dan manajemen sederhana seperti mengatur waktu tidur di siang hari akan sangat membantu. Dalam kasus yang berat, obat-obat untuk merangsang sistem saraf akan digunakan, seperti amphetamine, methylphenidate atau modafinil.
Tetapi penekanan perawatan narkolepsi adalah bagaimana caranya agar penderita hidup normal dengan pengobatan minimal.
Contoh saja Hari, ia mencoba menyesuaikan jadwal aktivitas, tidur dan medikasi. Di pagi hari ia minum obat penghilang kantuk dan obat pencegah katapleksi. Setelah makan siang, ia sempatkan tidur siang 20-30 menit untuk menopang produktivitasnya. Sebelum pulang, ia pun beristirahat sejenak di meja kerjanya. Ketika sangat mengantuk, ia memilih menggunakan taksi dibanding berkendaraan pulang.
Temui dokter Anda jika mengalami kantuk di siang hari yang berlebihan yang mengganggu kehidupan pribadi atau pekerjaan.
Gaya Hidup dan Perawatan di Rumah
Melakukan perubahan gaya hidup sangat penting untuk mengatasi narkolepsi, dengan mengikuti beberapa langkah berikut :
• Tetapkanlah jadwal. Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari, termasuk di akhir pekan. Atur Jadwal tidur siang singkat secara teratur sepanjang hari. Tidur siang 20 menit pada waktu-waktu strategis di siang hari bisa menyegarkan dan mengurangi kantuk selama satu sampai tiga jam. Beberapa orang mungkin perlu tidur yang siang lebih lama.
• Berolah raga secara teratur. Olahraga ringan teratur setidaknya 4-5 jam sebelum tidur dapat membantu tubuh merasa lebih terjaga di siang hari dan tidur lebih nyenyak di malam hari.
• Berjalanlah pagi hari. Keluar rumah pada pagi hari untuk berjalan kaki akan membuat Anda lebih terjaga sekaligus mendapatkan lebih banyak vitamin D dari sinar matahari. Vitamin D yang cukup setiap hari dapat membantu mendongkrak tingkat energi Anda.
• Batasi stress anda . Stres yang berlebihan dapat mengakibatkan kecemasan, kurang tidur, dan mengantuk di siang hari. Saat usia kita bertambah, kembali pada respons relaksasi setelah terjadi stres menjadi lebih sulit. Untuk menghindari stres, praktikkan latihan meditasi seperti yoga dan taichi, luangkan waktu untuk rekreasi, dan pastikan untuk beristirahat cukup.
• Hindari penggunaan nikotin dan alkohol. Menggunakan zat ini, terutama pada malam hari, bisa memperburuk tanda-tanda dan gejala narkolepsi.
• Mengatasi dan memberikan dukungan dengan memberitahu kepada orang lain tentang kondisi narkolepsi anda. Mengatasi narkolepsi dapat menjadi hal menantang. Membuat penyesuaian dalam jadwal harian dapat membantu. Pertimbangkan tip ini: Bicarakanlah tentang narkolepsi. Beritahu atasan atau guru atau keluarga tentang kondisi ini dan bekerjasamalah dengan mereka untuk menemukan cara mengakomodasinya. Mungkin termasuk tidur siang hari, merubah tugas-tugas monoton setiap hari, merekaman pertemuan atau kelas, berdiri selama rapat atau ceramah, dan berjalan-jalan cepat dengan variasi waktu sepanjang hari. Jaga keamanan. Jika harus mengendarai jarak jauh, bekerjasamalah dengan dokter untuk menetapkan jadwal pengobatan yang memastikan bisa terjaga selama berkendara. Dukungan kelompok dan konseling dapat membantu diri sendiri dan orang yang dicintai mengatasi narkolepsi. Mintalah dokter membantu menemukan kelompok atau konselor yang berkualitas di daerah setempat.

Secara pasti jumlah penderita Narkolepsi tidak diketahui, namun diderita oleh jutaan orang di dunia. Semua orang dapat terkena penyakit ini. Di antaranya, paling banyak adalah yang berusia antara 15-30 tahun.

Ditulis oleh: dr. Soesmeyka Savitri, SpKJ – Kepala kelompok Staf Medik Psikiatri RSUP dr Kariadi Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.