Orang Tua, Berdamailah Dengan Masa Lalumu

0

Seorang anak datang pada emaknya. Ia mengadu. Bercerita soal pembicaraan dengan bapaknya barusan. Si anak menangis tersedu.

Sesekali menyeka air mata, ia bercerita. “Bapak ingin aku mendaftar di Jurusan kedokteran,” kata si anak dengan sesenggukan.

Ia benar-benar tak mau menuruti kata bapaknya kali ini. Menjadi dokter bukan cita-citanya. Menghafal rumus-rumus, melakukan ekperimen, membuat laporan sama sekali bukan dunianya.

Ia tahu betapa susahnya mengikuti materi pelajaran yang sama sekali tak disuka. Seperti saat duduk di bangku SMA. Sebenarnya ia lebih memilih SMK. Komputer dan game adalah dunianya.

Orang Tua, Berdamailah Dengan Masa Lalumu 1

 

Sejak kecil ia menyukai game. Orang tuanya jugalah yang mengenalkan. Saking keranjingannya dengan game, kini ia ingin membuat game sendiri. Game yang lebih menantang dari point blank, crossfire, red cliff, atau empire.

Membuat karakter sendiri, field permainan, hingga aturan yang lebih menarik. Itulah dunianya. Ia tahu betul kejenuhan dan keinginan para gamers di komunitasnya.

Emaknya bingung. Di satu sisi ia ingin membiarkan anaknya mengeksplore diri. Melakukan yang disukai. Di sisi lain, ia tahu jika suaminya mengidamkan salah satu anaknya menjadi dokter. Cita-cita masa muda yang tak kesampaian.

Suaminya sering bercerita. Dokter adalah tujuannya. Sayang, biaya yang mahal menjadikannya drop out. Orang tua suaminya dulu tak mampu menyekolahkan.

Kini, biaya siap. Namun anak yang tidak siap.

Memilihkan pendidikan untuk anak tak hanya soal bagus atau tidaknya sekolah, mahal atau murah biayanya, ngetren atau konven, memiliki lapangan pekerjaan luas atau sempit.

Yahbun perlu tahu apa yang diinginkan anak. Mengetahui kesukaan dan pasionnya. Tanpa pasion, sekolah maupun bekerja, ibarat kerja rodi. Malas melakukan karena tertekan. Celakanya, jika sekolah atau bekerja terasa tertekan maka tak akan muncul potensi terbaiknya. Itu persoalan terbesarnya.

Baca juga:  BERMAIN dan MEMANDIRIKAN ANAK

Yahbun harus meyakini jika semua pekerjaan baik. Soal penghasilan, tinggal profesionalisme seseorang. Misal, pemain sepak bola kelas medioker yang hanya bermain di liga 2 Indonesia tentu akan menerima gaji lebih rendah dari pemain di liga 1 Indonesia. Pemain Indonesia yang memiliki skill tinggi biasanya juga enggan main di liga 1, liga teratas di Indonesia. Mereka memilih main di liga negara lain yang lebih tertata, minimal di Malaysia.

Evan Dimas Darmono misalnya. Ia akan menerima gaji 83.000 ringgit per bulan (setara Rp 269,7 juta) di Selangor FC musim depan. Padahal, pemain yang mengantarkan Bhayangkara FC juara liga 1 tahun 2017 ini hanya digaji Rp 10 juta per bulan. Beda jauh. Beda lagi dengan gaji pemain sepakbola di English Premiere League (Liga Inggris) atau Bundesliga Jerman.

Kadang orang tua suka dokter, anak ingin jadi gamer. Orang tua suka polisi, anak suka jadi politisi. Orang tua suka PNS, anak suka wirausaha. Ibarat mimpi, jangan pernah membangunkan anak dari tidurnya sebelum mimpi itu selesai. Jangan pernah mematahkan keinginan anak sebelum mereka berusaha.

Ingat, anak kita bukanlah kita. Dia memiliki dunia dan cita-citanya sendiri. Biarkan anak menjadi dirinya sendiri. Orang tua cukup mengarahkan, tak perlu memaksakan.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.