Ponpes MTA, Semodern Gontor dan Nyes di Kaki Lawu

2

Sudah pernah dengar nama Mojogedang? Jika belum, ibarat generasi, anda lahir di awal tahun 1900-an yang belum pernah dengar nama Gontor. Mojogedang merupakan salah satu nama kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Ponpes MTA, Semodern Gontor dan Nyes di Kaki Lawu 1
Megah, asrama 1 Ponpes MTA Mojogedang.

Lalu apa hubungan keduanya? Erat. Gontor identik dengan Ponpes Modern Darussalam, sementara Mojogedang merupakan lokasi Pondok Pesantren Majlis Tafsir Al Quran (MTA).

Kedua ponpes ini tak hanya sama-sama modern. Ponpes MTA Mojogedang mengadopsi hampir 75 persen metodologi pebelajarannya. Ya Kurikulum, sarana prasarana belajar mengajar, dan fasilitasnya. Sebagian besar pengajar juga lulusan Ponpes di Jawa Timur itu. Ditambah lulusan S1 dan S2 dari universitas dalam maupun luar negeri.

Menerima lulusan sekolah dasar dan jenjang pendidikan selama enam tahun, Ponpes MTA Mojogedang menerapkan kurikulum Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah (KMI). Kurikulum yang menekankan nilai-nilai agama meski pengetahuan umum juga diajarkan. Ini jelas berbeda dengan madrasah tsanawiyah (MTS), Madrasah Aliyah (MA) bahkan dengan SMP dan SMA MTA sekalipun. Meski sekolah-sekolah ini juga memiliki pondok (boarding house) untuk pendalaman ilmu agama.

Kurikulum KMI menekankan pendidikan agama yang berkelanjutan selama enam tahun. Memiliki pembelajaran yang khas pula. Berbeda dengan kurikulum pondok atau yang dikeluarkan oleh kemendikbud bagi sekolah negeri.

Lantaran perbedaan kurikulum itulah mengapa santri mesti benar-benar serius dalam menempuh pendidikannya. Tak bisa asal-aslaan keluar masuk seenaknya. Keluar sih  bisa, tapi jika melanjutkan di sekolah lain maka ia akan mengulang dari kelas 1 SMP. Lantaran Ponpes MTA Mojogedang hanya akan memberikan transkrip nilai bukan ijazah. Meskipun saat itu santri keluar setelah menempuh pendidikan tiga tahun, atau setara tahun ketiga di SMP.

Kecuali bagi santri yang akan meneruskan di ponpes lain yang sama-sama menerapkan kurikulum KMI, tak ada masalah. Tinggal lanjut di jenjang berikutnya.

Setelah enam tahun dan lulus pondok, sama seperti lulusan SMA, santri bisa melanjutkan di perguruan tinggi. Baik di dalam maupun luar negeri. Tapi melihat kemampuannya, its better if they go abroad. Mereka lebih baik melanjutkan di luar negeri, Timur Tengah khususnya.

Bagaimana bisa? Lulusan santri Ponpes MTA jelas bisa cas cis cus Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.  Kok bisa?

Setelah setengah tahun pembelajaran pertama, mereka diwajibkan menggunakan dua bahasa itu secara bergantian. Sepekan Bahasa Inggris dan sepekan berikutnya Bahasa Arab, Sepekan kemudian bahasa Inggris lagi, dan begitu setereusnya selama 24 jam. Artinya, tak boleh ada yang menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah baik saat kegiatan belajar mengajar atau interaksi di luar kelas. Mereka wajib cakap sata menulis, fasih saat mengucap maupun ketika mendengar.

Wow keren…

Lulus Ponpes MTA Mojogedang, santri juga wajib menguasai kitab-kitab berbahasa arab gundul (tanpa harakat). Baik saat membaca dan memahaminya. Tingkat kelancaran sebagaimana saat mereka membaca Bahasa Indonesia.

Baca juga:  Keluarga Jerman yang Disiplin dan Pendidikan yang Simpel

Sudah itu saja? Tidak. Dengan kewajiban menghafal Quran 2-3 juz per tahun, maka selama enam tahun tiap santri hafal minimal 15 juz Al Quran.

Ponpes MTA, Semodern Gontor dan Nyes di Kaki Lawu 4

Untuk mencapai target-target itu, pendidikan dijalankan dengan disiplin. Proses belajar mengajar mulai pada pukul 07.00 – 13.00. Dilanjutkan shalat Dhuhur dan makan siang, santri mulai pembelajaran lagi pada pukul 14.00 – waktu Ashar. Setelah itu free. Mereka bebas melakukan kegiatan lain. Saat Magrib, santri wajib shalat di Masjid Ponpes, sebagaimana shalat wajib di empat waktu lainnya, dan dilanjutkan makan malam. Setelahnya, kegiatan muwajjah atau mengulang pembelajaran bersama dengan wali kelas. Santri diperbolehkan tidur pulul 21.30.

Dalam sepekan, pendidikan berjalan enam hari. Saat hari Minggu, sama sekali tak ada kegiatan belajar mengajar. Jenuh dong? Jelas tidak.

Ponpes MTA, Semodern Gontor dan Nyes di Kaki Lawu 5
Asrama Ponpes MTA Mojogedang, yang berhadapan dengan view Gunung Lawu.
(foto diambil pekan pertama Februari 2019)

Mojogedang masih termasuk wilayah di kaki Gunung Lawu. Udaranya dingin saat pagi, sore dan malam hari. Airnya, nyes…..  Apalagi jika santri berasal dari perkotaan yang sumber airnya dari sungai yang diolah, tentu jelas beda. Air di Mojogedang lebih fresh.

Bosan? Kalau iya, silakan jalan-jalan. Ponpes MTA berada di area perbukitan dan langsung berhadapan dengan Gunung Lawu. Menyenangkan. Tak banyak ponpes modern yang berada di kaki gunung karena rata-rata ada di perkotaan.

Bosan? Silakan olahraga sepuasnya. Karena Ponpes MTA tak hanya punya gedung belajar mengajar, asrama dna masjid. Ada fasilitas olahraga, dan kedepan akan dilengkapi lahan pertanian, peternakan, sarana belajar otomotif dan lainnya.

Namun, karena tahun pelajaran 2019/2020 ini merupakan tahun pertama maka pembangunan fasilitas dilakukan secara bertahap. Yang pasti santri tak bisa asal pulang rumah. Sesuai aturan, mereka boleh pulang sekali per semester. Sebaliknya, orang tua bisa menjenguk tiap hari asalkan tidak pada jam pelajaran.

Ponpes MTA, Semodern Gontor dan Nyes di Kaki Lawu 6
Brosur pendaftaran tahun pelajaran 2019/2020.

Pada tahun pertama ini, hanya 90 santri putra saja yang akan diterima. Pada tahun kedua, akan diterima santriwati namun jumlahnya disesuaikan dengankapasitas gedung saat itu nanti. Namun jika melihat grand design nya, kapasitas ponpes ini berkisar 2.000 santri/santriwati.

Mau mendaftarkan anak ke sana, jangan khawatir soal biaya. Per bulan hanya Rp 800 ribu. Nominal itu pun sudah mencakup biaya pendidikan, asrama dan makan selama sebulan.

Meski mengadopsi kurikulum Ponpes ontor, Ponpes MT akan memiliki pembelajaran khas yang memang identik dengan kegiatan dan pelajaran MTA.

Tertarik?

*Tulisan ini dibuat berdasarkan wawancara dengan perwakilan Ponpes MTA Mojogedang Ust. Nur Kholid Syaifulloh.

**Foto-foto merupakan dokumen Ponpes MTA Mojogedang. Foto diambil pada pekan pertama Februari 2019.

Salam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.