Rumah Singgah Aira, Harapan Anak-Anak ODHA

0
Rumah Singgah Aira, Harapan Anak-Anak ODHA 1
Pengurus mendampingi anak-anak ODHA di Rumah Singgah Aira.

Namanya Rumah Singgah Aira. Tempatnya tak terlalu besar, tapi istimewa. Merawat orang dengan HIV/AIDS (ODHA) seperti keluarga. Tak ada beda.

Akhir 2018, ada empat anak di sana. Di rumah singgah yang ada di Jalan Kaba Timur Nomor 14, RT 09 RW 13, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Bukan pengunjung, keempatnya adalah penghuni, merekalah yang sedang dirawat. Paling kecil berusia sembilan bulan dan paling besar berusia 14 tahun.

Lalu bagaimana bisa mereka terkena peyakit mematikan itu? Pertanyaan retoris sebenarnya. Tak butuh jawaban. Dari orang tua mereka mestinya. Miris. Lebih memprihatinkan lagi, dua diantaranya merupakan yatim piatu dan dua lainnya yatim. Berasal dari Kota Semarang, Kendal dan Pati, kini mereka adalah keluarga baru Rumah Singgah Aira.

Satu dari empat anak tersebut bernama Diki yang berusia 14 tahun. Ia mulai terinfeksi HIV/AIDS sejak tujuh tahun lalu, atau sekitar tahun 2012. Saat itu, dia masih tinggal di tempat asalnya Pati. Awalnya, Diki terbaring sakit dan ada jamur di bagian mulutnya. Setelah melalui beberapa tindakan pemeriksaan, dia dinyatakan positif terjangkit HIV/AIDS.

Lantaran kondisinya, keempat anak ini harus rutin mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan. Ada yang periksa ke Puskesmas sebulan sekali, ada pula yang di rumah sakit. Saban hari, mereka juga harus mengonsumsi obat agar kondisi kesehatannya tidak semakin memburuk.

Mau tak mau hal itu harus dilakukan. Lalu darimana biayanya?

Baca juga:  5 Tips Cek Kesehatan Mata Anak

Pendiri Rumah Aira, Maria Magdalena mengatakan Rumah Aira memiliki sekitar 10 pengurus, termasuk beberapa pendamping yang merawat keseharian mereka. Setiap hari, para pendamping bergantian menyempatkan diri untuk mengurus anak-anak.

Di kesehariannya, semua ODHA diperlakukan sama. Seperti keluarga dan tak ada bedanya. Bermain bersama, makan, minum dan juga aktivitas lainnya. Keberadaan ODHA di sana diterima begitu baik oleh warga sekitar.

Mereka berbaur bersama tanpa ada diskriminasi. Bagaimana bisa? Ternyata pendamping dan perawat melakukan sosialisasi terlebih dulu pada warga sekitar. Tujuannya, masyarakat paham dan tidak mengucilkan.

Untuk memenuhi kebutuhan mereka, bukannya tanpa kendala. Salah satu kendalanya yakni beban biaya hidup yang harus ditanggung bersama. Selama ini, pihak yayasan masih menggantungkan uluran tangan dari dermawan meski belum ada donator tetap. Jika donasi dari donator terbatas, tak jarang pengurus yayasan mengeluarkan uang dari kantong masing-masing.

Tak hanya kendala materi, yayasan juga membutuhkan tenaga sukarelawan untuk mendampingi dan merawat anak-anak ODHA. Namun dengan catatan, tak ada bayaran. Sebatas sukarela dan ikhlas.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.