Tak Menempuh Pendidikan Formal, Bagaimana Bisa?

0

Tak Menempuh Pendidikan Formal, Bagaimana Bisa? 1

 

Suatu pagi, saat berenang. Usai wara-wiri di kedua sisi kolam renang, saya berhenti. Istirahat di salah satu sisinya. Dengan nafas tersengal, seorang bapak juga beristirahat. Tepat di samping saya.

“Itu putra-putrinyanya pak?” tanyanya dan saya iyakan. Ia melihat ke arah kedua anak saya sedang bermain di kolam sebelah dengan kedalaman 0,6 meter. Sesuai jadwal bermainnya, setiap Senin pagi keduanya berenang.

Satu pertanyaan itu berlanjut dengan pertanyaan umur dan sekolah. Pertanyaan seperti ini sudah sering saya terima. Mengingat anak-anak sering saya ajak main di jam-jam sekolah.

Setelah saya jawab keduanya homeschooling, si bapak melanjutkan pertanyaanya. Homeschooling Kak S*** ya? Pertanyaan lanjutan seperti ini juga sudah sering saya terima. Pendidikan homeschooling memang belum familiar di keluarga Indonesia. Dan kebetulan, salah satu yang memopulerkannya ya Kak S*** tadi.

Kami mengonsep pendidikan untuk anak-anak dengan pure homeschooling. Sekolahnya ya di rumah, kelasnya bisa di kamar tidur, kamar tamu, atau dapur. Gurunya adalah orang tuanya, kurikulumnya bikin sendiri, jadwal pelajarannya pun disesuaikan dengan kesibukan orang tuanya dan mood si anak.

Keduanya sama sekali tak menempuh pendidikan formal. Tapi, jika suatu saat kok ngebet butuh ijazah, bisa juga sih ambil ujian Paket C. Tapi sampai saat ini belum terpikirkan ke sana.

Si bapak mulai penasaran. Ia nampak belum bisa belum bisa menerima konsep itu. Lalu bagaimana dengan masa depan anak? Padahal saat ini ijazah dan nilainya menjadi salah satu tolok ukur keberhasilannya kelak. So, bagaimana jika tanpa ijazah?

Pendidikan homeschooling yang kami jalankan memang tak menekankan pada nilai dan ijazah. Terpenting bagi kami adalah pasion si anak. Bagi kami, memiliki satu kemampuan namun profesional akan jauh lebih bermanfaat daripada banyak kemampuan namun sebatas rata-rata.

Lho, kalau mau kerja bagimana? Kami berharap, melalui konsep ini anak-anak akan menciptakan lapangan kerjanya sendiri. Tidak tergantung pada orang lain. Di zaman sekarang kerja bisa dimana saja dan kapan saja. Bahkan saat tidurpun, bisnis tetap jalan. Bisnis online atau berbasis pada internet misalnya. Jadi youtuber contohnya. Bagaimana guru pendidikan formal menjelasan potensi bisnis seorang youtuber? Tak ada mata pelajaran yang mendukung ke sana. Padahal, potensi income nya sangat besar jika digarap profesional.

Orang tua sebagai guru menyiapkan mereka untuk bisa beradaptasi dengan lingkungannya sesuai eranya. Lantaran beda generasi maka beda pula tantangannya.

Sekitar 7 menitan kami berbincang. Sengal nafas sudah mulai hilang. Si bapak mulai paham dan kami melanjutkan untuk berenang kembali.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.