Tak Perlu Ngeluh, Belajarlah dari Nenek Ini

0

DeParenting.com – Namanya Mbah Wandiyem, namun lebih sering dipanggil Bandiyem. Nenek ini mungkin menjadi satu-satunya orang yang wara-wiri serta naik turun lantai di kantor gubernur Jawa Tengah dan DPRD Jawa Tengah nyeker alias tanpa alas kaki. Bukan hanya sehari dua hari, melainkan 62 tahun.

Tak Perlu Ngeluh, Belajarlah dari Nenek Ini 1

Selama itu, Wandiyem jualan berbagai macam buah-buahan. Paling banyak pisang. Konsumennya adalah PNS di lingkungan Pemprov Jawa Tengah.

Ada yang unik dari style simbah berusia 82 tahun ini. Bukan soal baju kebaya atau selendang yang selalu ia kenakan, melainkan nyekernya itu. Padahal sebenarnya ia membawa sendal. Namun ditaruh di tenggok berdampingan dengan buah-buahan dagangannya.

Tak Perlu Ngeluh, Belajarlah dari Nenek Ini 2

“Risih kalau pakai sendal. Tapi kalau ke kamar mandi, saya pakai. Kalau selesai dari kamar mandi, pakai sendalnya ya selesai,” katanya.

Melihat lamanya berjualan, maka Wandiyem telah mulai berjualan seperti itu sejak umur 20 tahun. Durasi waktu selama itu, Wandiyem berjualan di periode pemerintahan puluhan gubernur. Apa tak ada yang pernah menegurnya soal alas kaki?

“Nate dilokke gubernur. Rak popo rak sendalan sing penting awet urip. (Pernah ditegur gubernur. Ndak papa tidak sendalan yang penting panjang umur),” ujar Bandiyem namun tak menyebut siapa gubernurnya waktu itu.

Doa gubernur itu pula yang mungkin membuat Wandiyem sehat fisik. Tak seperti kebanyakan nenek-nenek lain seusianya, fisiknya masih terlihat kuat. Jalan kaki ke beberapa gedung, naik turun lantai menggunakan lift. Begitu setiap harinya. Jalannya juga masih cekatan. Pendengaran dan pengelihatannya masih jelas.

Baca juga:  Menakar Kesulitan Pasien Rawat Jalan

Tak Perlu Ngeluh, Belajarlah dari Nenek Ini 3

Nenek bercucu empat ini mengaku sebenarnya anak-anaknya sudah tak memperbolehkannya berjualan. Namun, menurutnya berdiam diri bukanlah pilihan. Simbah asli Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten Jawa Tengah dan kini tinggal di Pleburan Kota Semarang ini memilih tetap berjualan.

‘‘Nek neng omah rak ono sing menehi duit. Nek neng kene sithik-sithik ono. (Kalau di rumah tidak ada yang ngasih yang. Kalau di sini, sedikit-sedikit ada),’’ katanya.

Sebenarnya bukan melulu berorientasi pada uang. Dengan berjualan, sebenarnya Wandiyem menjaga kesehatan dengan berjalan wara-wiri menawarkan dagangan. Selain itu pula, dia menjauhkan diri dari pikun karena banyak berkomunikasi dengan konsumennya.

Sikap dan kerja keras Wandiyem ini seolah mengajarkan pada kita. Manfaatkan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat. Di manapun dan usia berapapun.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.