Temukan Potensi, Tanya Cita-Citanya dan Arahkan

0

DeParenting.com – Saat berusia di bawah lima tahun, si bocah bercita-cita menjadi doraemon. Baginya semua hal bisa jadi nyata. Setelah duduk di bangku SD, ingin jadi polisi atau guru. Lebih realistis. Saat SMA, ingin jadi pengusaha, demikianhalnya saat kuliah. Namun hingga lulus kuliah tak jelas mau usaha apa.

Temukan Potensi, Tanya Cita-Citanya dan Arahkan 1

Parahnya lagi, ada sebagian remaja yang inginya hanya mengalir. Just let it flow, like water on the river. Nunggu kesempatan mendatanginya.

Jadi teringat saat beberapa kali Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajar di sekolah-sekolah. Bukan soal hadiah uang tabungan atau buku yang ia bagi-bagikan, melainkan soal pertanyaan-pertanyaan menggelitik yg ia sampaikan.

”Apa cita-citamu” tanyanya pada salah satu siswa saat mengajar di SMA 1 Dempet Kabupaten Demak.

“Pengusaha” jawab siswa. Jawaban yg terlalu umum membuat dia diminta menjawab spesifik di bidang apa. ”Pengusaha bawang putih” jawabnya.

Jawaban itu jauh lebih bagus dari kawannya yang juga berniat jadi pengusaha namun menunggu kesempatan datang padanya. ”Usaha apa saja lah nanti,” katanya.

Dalam berbagai kesempatan, Gubernur Ganjar menanyakan perihal cita-cita pada siswa. Lalu bagaimana cara meraihnya. Kalau harus sekolah, maka sekolah di mana dan jurusan apa. Bukan materi pelajara yang ia sampaikan, namun soal motivasi dan mental.

Ganjar hanya salah satu contoh pejabat publik yang melakukannya. Presiden Joko Widodo bisa jadi lebih sering memancing angan para siswa dengan pertanyaan-pertanyaanya.

Baca juga:  Saat Kau Bilang Tak Boleh

Ayah bunda, seringlah bermain dan berdialog dengan anak. Gali potensi dan temukan apa kesukaanya. Selanjutnya arahkan potensi yang dimiliki untuk mencapai cita-citanya. Lebih menyenangkan jika cita-citanya itu adalah hobinya.

Temukan Potensi, Tanya Cita-Citanya dan Arahkan 2

Misalnya, waktu kecil anak senang bercerita maka berilah dia materi publik speaking yang mumpuni. Bahkan kursuskan kalau perlu. Banyak lho pejabat negara yang tak menguasai kemampuan ini. Padahal melalui publik speaking yang bagus, seseorang bisa jadi marketer handal. Entah memasarkan apapun, barang atau jasa. Atau bahkan menggerakkan massa melalui gaya persuasifnya.

Sebaliknya, bayangkan jika anak sudah dewasa namun tak tahu akan menjadi apa. Setelah lulus kuliah, memang tak salah jika mereka ingin mendaftar jadi pamong negara. Tapi ingat jatah kursi sangat terbatas. Bisa jadi akan lebih baik jika orang tua mengarahkan dan membimbing sedini mungkin.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.