Tips Menangani Si Bandel di Usia Toddler

0

Bagi Yahbun yang punya bayi usia toddler (12-36 bulan), bisa jadi pernah dibuat kaget oleh tingkahnya. Tiba-tiba dia bilang ‘tidak’ ‘no’ pada ajakan atau permintaan orang tua. Ndak mau makan, padahal perutnya belum terisi sesendok nasipun. Menolak saat bajunya dilepas untuk mandi. Bahkan ada juga toddler yang asyik memainkan tombol power televisi, meski ayah bundanya melarang.

Tips Menangani Si Bandel di Usia Toddler 1

 

Yahbun, perlu diketahui bahwa toddler memang kadang suka membangkang pada orang tuanya. Pikiran toddler berkembang super cepat. Termasuk daya imitasinya. Dia akan menirukan apa saja yang ia lihat di sekelilingnya. Terlebih lagi apa yang ia lihat itu sering terjadi dan berulang.

Di sisi lain, ada yang mengatakan jika pembangkangan si toddler untuk mengetahui seperti apa reaksi dari dari sekelilingnya. Singkat kata, si bayi usia 1-3 tahun ini sudah memiliki rasa penasaran dan tengah mencobanya.
Misalnya apa yang akan terjadi jika aku memuntahkan makanan ini? Apa yang akan yahbun ku lakukan jika aku berteriak atau menangis keras? Apa yang yahbun ku lakukan kalau aku tak mau diajak mandi?

Jika salah dalam menangani, maka mereka akan merasa memiliki power. Maka cara itupun akan diulangnya terus menerus.

Misalnya, si toddler yang tidak diperbolehkan membeli permen waktu di toko dan gulung-gulung di lantai. Jika orang tua kemudian luluh dan memberikan permen maka maka besar kemungkinan jurus itu akan diulangnya.
”Wow keren, aku bisa mempengaruhi Yahbun ku! Aku punya kekuatan,” mungkin seperti itulah pikirnya.

Yahbun, sikap penolakan sebenarnya merupakan sifat alami mereka. Namun, bukan berarti pembangkangan atau dalam dunia parenting lebih sering disebut defiansi ini boleh diabaikan begitu saja. Jika dibiarkan, boleh jadi sifat membangkangnya akan semakin menjadi.

Berikut ini tips yang bisa Yahbun lakukan jika si toddler mulai membangkang.

1. Pahami jalan pikirannya
Meski masih kecil dan anak telah sensitif dengan emosi namun pada dasarnya mereka belum bisa mengendalikan diri. Andri Priyatna dalam bukunya ‘memahami, mengasuh, dan mendidik anak pembangkang’ bahkan menyebut menangani toddler hampir sama dengan menangani hewan liar di penangkaran. Dia bisa menuntut, sedikit berbahaya, dan nakal. Maka membutuhkan keahlian khusus untuk menanganinya. Yahbun harus terus belajar ya….

Baca juga:  Ponpes MTA, Semodern Gontor dan Nyes di Kaki Lawu

2. Lakukan komunikasi dengannya
Komunikasi antara Yahbun dan si toddler sangat penting. Lebih penting lagi, memahami karakternya dan lakukan komunikasi dengan tepat. Ada kalanya yahbun harus tegas, agar si toddler tahu siapa ‘bos’ di keluarga. Tapi ingat ya, tegas bukan berarti harus dengan kata keras dan kasar. Ada kalanya pula anak diberitahu jika sikapnya itu atau pilihanya itu tidak baik untuknya. Komunikasi pada saat itu bisa jadi terlihat tak bermanfaat karena si toddler terus membangkang. Maka, nasihat serupa bisa diulang lagi pada saat hati si anak sedang gembira.

3. Let them do what they want to do
Kadang Kala biarkan mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan. Meski pada sebelumnya hal itu dilarang. Dengan aturan ini, si toddler akan menjadi paham mana yang boleh dan mana yang tidak.
Misalnya gini Yahbun, pukul 21.00 dia ambil permen dan minta dibukakan bungkusnya. What?! Padahal dia baru saja gosok gigi. Pukul 21.00 juga merupakan waktunya tidur. Tapi di lain waktu, saat siang atau sore hari, ajaklah dia beli permen dan makan sesukanya. Dengan demikian, sedikit demi sedikit dia akan tahu mana yang tidak boleh dan mana yang boleh.

4. Bangun ikatan dan ciptakan lingkungan yang aman untuknya
Gaya hidup kebanyakan keluarga saat ini adalah gaya supersibuk. Ayah bekerja, ibu pun demikian. Ibu pulang sore, ayah pulang malam. Si toddler pun dititipkan pada pengasuh.

Kerja atau tidak, pulang malam atau siang, sebenarnya ini pilihan Yahbun. Lantaran ada kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga. Namun yang mesti diingat adalah pentingnya ikatan rasa (bonding) antara Yahbun dan anak. Jika tak ada bonding, bisa jadi anak tak akan nyaman dengan orang tuanya. Imbasnya, akan lebih sering muncul pembangkangan.

Semangat ya Yahbun!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.