DeParenting.com – Anak-anak ibarat pisau bermata dua. Pendidikan yang tepat akan mengantarkanya menjadi baik. Demikianhalnya sebaliknya. Karena anak-anak saat ini akan menjadi pemimpin di masa mendatang.
Tanggungjawab besar ada di pundak orang tua dan lingkungan untuk memberikan pendidikan yang tepat.
Tapi sayang, di era milenial ini, banyak orang tua yang lalai. Bukannya tidak perhatian pada anak, malah sebaliknya. Orang tua memberikan pakaian yang bagus pada anak, makanan bergizi, mainan yang menyenangkan, menyekolahkan dengan biaya tinggi hingga sarjana bahkan lebih. Namun, jika anak-anak tak dibekali dengan akidah ilmu agama yang baik dan benar maka tak akan pernah menjadi manusia yang baik.
Bagaimana bisa?
Pimpinan Majlis Tafsir Al Quran (MTA) Pusat, Al Ustadz Drs Ahmad Sukina mengatakan jika manusia bisa menjadi baik tanpa agama maka sia-sia lah Allah mengutus Rosulullah SAW. Tak hanya itu, sia-sia pula Allah menurunkan Al Quran. Menurutnya, fungsi Al Quran adalah mengeluarkan manusia dari (kegelapan) akidah yang tidak baik dan Rosulullah telah memberikan teladan bagaimana mengamalkannya.
Ia menukilkan hadist yang bermakna ‘’Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam)’’.
Tanpa ilmu agama (Al Quran dan Hadist) maka manusia tak akan tahu asal usulnya, apa yang akan dilakukan di dunia, dan apa tujuannya kelak. Isinya hanya senang-senang untuk mengikuti hawa nafsu dan tak ingat mati. Jika tak ingat mati maka tak pernah mempersiapkan bekal amal untuk kematiannya kelak.
Sukina mengatakan, mumpung masih usia anak-anak maka harus ditanamkan akidah yang kuat dan diberikan ilmu agama. Sehingga menjadi apapun kelak, maka tetap menjadi manusia yang baik.
“Islam merupakan kenikmatan yang tak pernah kita minta. Sejak lahir sudah diberikan. Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, ini menjadi modal kesiapan beragama Islam. Kalau tak disyukuri, nikmat Islam bisa hilang. Terutama para orang tua,” ujar Sukina dalam acara Upgarding TPA MTA Nasional 2020 yang digelar secara daring, Sabtu (27/6/2020).
Selanjutnya, orang tua lah yang menjadi aktor utama yang mencetak masa depan anak. “Setiap anak dilahirkan dalam fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari)

TPA Majlis Tafsir Al Quran
Jika saat ini MTA memiliki 5.559 santri, bukanlah diperoleh dengan mudah. Butuh perjuangan dan memerlukan proses panjang. Santri merupakan amanah yang harus di didik dengan serius. Ada 1.523 ustadz/ustadzah yang aktif mengajar dan yang tersebar di 329 cabang MTA di Indonesia.
Mereka mengajar secara lillah, hanya mengharapkan ridha dari Allah SWT. Untuk meningkatkan mutu pendidikan TPA, MTA membuat buku panduan mengajar, materi pelajaran dan sistem pembelajarannya. Titik tekannya adalah, mengajar agama pada anak-anak secara menyenangkan dan sesuai dengan usia dan akal anak-anak. Anak-anak jangan dianggap remeh, justru masa kanak-kanak inilah mesti ditanamkan akidah agar lebih mantab.
Untuk memaksimalkan pendidikan TPA, Sukina sekali lagi menekankan peran serta aktif orang tua. Tujuannya mendorong anak-anak nya untuk mengikuti TPA.
“Jagalah anak setelah dilahirkan. Harus di jaga, jangan dibiarkan berkembang menurut kemauannya sendiri. Orang tua harus bertanggungjawab. (TPA) ini dalam rangka menjaga nikmat (Islam) yang diberikan Allah. Kalau sudah hilang, susah mendapatkannya. Jika demikian, jangan harapkan anak jadi baik,’’ tandasnya.
Pada para ustadz dan ustadzah pengajar TPA MTA, Sukina memberikan apresiasi. Selanjutnya mendorong agar terus bersungguh-sungguh dalam mengajar. Setiap manusia yang memiliki ilmu wajib mengamalkannya. Jika tidak, maka ibarat lebah tak bermadu atau pohon yang tak berbuah.
“Saya ucapkan terima kasih pada guru-guru TPA. Mengurus walau bukan anaknya sendiri. Tak ada gaji. Semua berjuang li ilai kalimatillah (menegakkan kalimat Allah) dan inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam). Itu yang paling ampuh,’’ katanya menyemangati ribuan guru TPA yang mengikuti upgrading secara daring itu.









Walaupun ustadz sukina baru saja meninggal MTA harus tetap semangat dan menjadi pilar bangsa!
betul. Harus melanjutkan semangat beliau.