DeParenting – Ardhito Pramono, salah satu penyanyi muda berbakat Tanah Air, baru saja merilis singel terbaru berjudul Something New. Berbeda dari karya-karya sebelumnya, Something New merupakan lagu anak-anak yang menjadi pembuka album pendek bertajuk Semar & Pasukan Monyet.
Bukan tanpa alasan, pelantun Fine Today ini menggarap proyek itu lantaran resah dengan banyaknya anak-anak yang menyanyikan lagu orang dewasa. Hal ini menurutnya tidak baik bagi psikis mereka, terutama yang masih berusia 1 hingga 6 tahun.
Keresahan tersebut tentu bukan bahasan baru. Lantas, bagaimana sebenarnya pemilihan lagu yang tepat bagi psikologis dan perkembangan anak? Atau bolehkah anak-anak mendengar lagu dewasa?
Menurut Berliana Widi Scarvanovi, S.Psi., M.Psi., Dosen Psikologi Perkembangan FK UNS, anak-anak di bawah usia remaja memang tidak disarankan untuk diperdengarkan atau menyanyikan lagu dewasa. Khususnya lagu bertema percintaan dalam konteks laki-laki dan perempuan.
Secara psikologi ada tahapan perkembangan mulai dari bayi hingga dewasa tua. Di mana pada setiap masa perkembangan tersebut ada target-target dan standar-standar yang harus dicapai. Anak usia sekian seharusnya diberikan stimulus apa, dapat melakukan apa, optimalisasinya harus di ranah mana, dan sebagainya.
Di usia anak-anak, imbuh Berliana, mereka memang lebih banyak ke arah eksplorasi, banyak ke arah belajar, ke arah tema-tema yang memang masih berkaitan dengan dirinya sendiri atau manajemen diri, dan bagaimana penguasaan terhadap lingkungan.
“Misalkan lagu mengajarkan bangun pagi, membersihkan tempat tidur sendiri. Lalu ‘Kalau kau suka hati tepuk tangan’ untuk pengenalan emosi sejak dini. Sehingga kalau ada stimulasi entah itu dalam bentuk lagu, film, dan lainnya ya yang harus berkaitan dengan hal-hal itu. Tidak boleh lagu-lagu yang belum sesuai dengan tantangan yang seharusnya dihadapi pada masa anak-anak,” jelasnya sebagaimana dilansir dari laman UNS, Rabu 21 April 2021.
Perihal dampak, Berliana menyebut pada awal masa kanak-kanak (usia balita sampai sekitar kelas 1 SD), mereka belum begitu mengerti apa yang didengarkan atau nyanyikan. Mereka baru sampai pada tahap imitasi atau meniru.
Akan tetapi, semakin lama kognitif anak akan semakin matang dan berkembang pada level tertentu. Anak-anak pun akan mulai menanyakan diksi-diksi yang ada dalam lagu tersebut, seperti kata ‘cinta’ atau ‘pacar’ itu apa.
Jika orang tua tidak dapat menjawab dengan tepat, lalu anak justru bertanya ke teman atau orang lain dan memperoleh informasi yang kurang sesuai, itu lah yang mengkhawatirkan
“Anak mendapatkan informasi dan stimulasi yang tidak sesuai dengan usianya. Dampak lanjutannya macam-macam. Saya rasa salah satunya adalah pacaran dini. Dapat stimulasi dari lagu dan film percintaan yang tulisannya bimbingan orang tua, tapi anak menonton dan mendengarkan dengan bebas,” ujar Berliana perihal bolehkah anak-anak mendengar lagu dewasa.









Tinggalkan Balasan