DeParenting.com – Halo ayah bunda. Kali ini DeParenting akan berbagi langkah-langkah membuat jadwal bermain bagi anak-anak homeschooler usia 5-7 tahun.
Perlu di ketahui, di usia ini anak sudah bisa memilih apa yang disukai dan apa yang tidak disukai. Bahkan, mereka bisa menyampaikan ide kegiatan yang ada dalam pikirannya.
Karena ini merupakan jadwal bagi anak homeschooler atau anak yang sedang menjalani pendidikan homeschooling maka kegiatan bermain tentu saja berisikan materi pendidikan, ya ayah bunda. Tidak boleh sembarangan atau hanya menuruti keinginan anak.
Pada usia 5-7 tahun, anak diajarkan untuk lancar membaca, berhitung dan berkreasi sesuai imajinasinya.
Ada beberapa langkah untuk membuat jadwal bermain bagi homeschooler usia 5-7 tahun. Jadwal bermain ini lanjutan materi dari membuat jadwal bermain bagi homeschooler usia 3-5 tahun.
Kali ini, DeParenting bermain ke rumah keluarga salah satu praktisi homeschooling Mifta Hasmi yang ada di Kota Semarang.

1. Lakukan Diskusi
Langkah pertama adalah melakukan diskusi dengan anak. Tujuannya mengetahui apa saja yang ia sukai. Sehingga bisa diterjemahkan dalam kegiatan oleh orang tuanya.
Anak laki-laki dan perempuan tentu saja berbeda kesukaannya. Cara menyampaikan atau berdiskusinya pun berbeda. Anak perempuan biasanya lebih bisa menyampaikan karena secara psikologis, mereka lebih dewasa.
Misalnya, baru tren hal-hal yang berbau korea. Maka, pendidikan bisa disesuaikan. Belajar tentang budaya Korea, makanan asli mereka, pakaian adatnya, bahasa, warna bendera, hingga hewan endemik korea hingga. Pokoknya hal-hal yang berbau Korea diajarkan.

2. Selipkan Materi Pendidikan di Setiap Kegiatan
“Karena anak-anak baru tertarik dengan hewan hedgehog (landak mini) dan porcupine (landak), maka pada pekan kedua November ini kami ulas keduanya pada materi pelajaran sains,” kata Mifta Hasmi.
Dalam pembuatan jadwal, sudah terbagi-bagi, apa saja kegiatannya dan dilakukan pada hari apa. Misal hari Rabu soal membedakan hedgehog dan porcupine. Dalam kegiatan itu, anak diajak menuliskan perbedaanya. Dengan demikian, anak sudah belajar menulis dengan lancar.
Setelah itu, anak juga diajak membaca apa saja perbedaan yang dituliskan. Dengan demikian anak akan belajar membaca dan akan semakin lancar pula.

3. Berikan Materi Dengan Variasi
Dalam tema hedgehog dan porcupine itu, Mifta juga mengajak kedua anaknya yang berusia hampir lima tahun dan tujuh tahun untuk berkreasi membuat hewan dari kertas.
Jika tingkat kedewasaan anak belum cukup, kadang materi ini susah-susah gampang untuk dijalankan. Meski sudah kesepakatan, namun mood anak kadang kala hilang dan memilih mainan yang lain.
“Pernah juga seperti itu. Anak yang kecil (hampir 5 tahun) belum mood membuat kreasi. Tapi pas sudah jadi, dia mau diajak main. Kuncinya orang tua mesti sabar,” ujarnya.
Berkreasi seperti ini, lanjutnya, akan menambah daya imajinasi dan kreativitas anak. Ini penting bagi pertumbuhan otak kanannya.

4. Bermain dan Menyimak Video
Daya fokus pada satu hal itu kadang tak berlangsung lama. Apalagi jika kegiatan dirasakan mereka membosankan. Mood tiba-tiba berubah.
Maka, sarannya, dengan memutarkan video yang berhubungan dengan materi yang diajarkan. Saat belajar sains dengan materi hedgehog dan porcupine, ada video tentang bagaimana hewan itu di habitat aslinya.
Apa saja yang mereka makan, saat tidur atau saat bertarung dengan mangsanya. Itu akan lebih menarik minat anak untuk mengetahui sesuatu hal yang baru daripada hanya sebatas cerita oral. Apalagi bagi anak laki-laki, biasanya sangat tertarik.
5. Ajak Anak ke Lokasi Secara Langsung
Jika memungkinkan, ajaklah anak untuk mengetahui kondisi riil apa yang ia pelajari. Misalnya, anak baru mempelajari soal sungai, maka ajak melihat atau bahkan bermain di air sungai. Itu jika meungkinkan.
Sementara yang Mifta lakukan adalah mengajak anak bermain di rumah hegdegdog. Kebetulan itu ada di Kota Semarang. Jika sebelumnya anak-anak hanya melihat dari gambar dan video, kini anak-anak bisa melihat secara langsung. Bahkan memegang dan merasakan tajamnya duri landak mini.
Hal itu jelas membuat anak semakin tertarik.

6. Rangsang Anak Menceritakan Kembali
Mintalah anak menceritakan kembali apa yang sudah ia mainkan dan pelajari setiap harinya. Ini penting. Karena melatih anak bercerita dan mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Dengan demikian, orangtua akan tahu sejauh mana antusias anak menjalani permainan. Orang tua akan mengetahui pula kemampuan berbicara dan menceritakan si anak.
Tentu mereka akan menceritakan sesuai dengan batas kemampuannya ya. Jangan dipaksakan untuk runtut dan komplet.
Namun jika memang mereka mengalami kesulitan, maka orang tua wajib membimbing.
Selamat mencoba ayah bunda….. !









Tinggalkan Balasan