DeParenting.com – Di masa Pandemi Covid 19, orang tua menjadi guru dadakan. Parahnya, orang tua sering kali emosi saat mengajar dan menemani anak belajar. Tak jarang, orang tua pun lebih galak dibanding guru di sekolah.
Penyebabnya, orang tua tak siap dengan kewajiban mengajar anak. Lantaran selama ini, orang tua fokus mencari uang dan urusan pendidikan diserahkan pada sekolah. Bahkan tak jarang pula ada orang tua yang cuek terhadap proses pendidikan anak. Mereka tahunya saat terima rapor.
Saat nilai anak bagus maka memberikan pujian atau hadiah. Tapi jika jelek, guru di sekolah yang menjadi sasaran. Atau anak dinilai bodoh dan kemudian ditambahi dengan kelas les di luar jam sekolah.
Agar pembelajaran di rumah tetap nyaman dan menyenangkan, Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo menyarankan agar pihak sekolah melibatkan orangtua dalam membuat kurikulum pembelajaran, termasuk waktu pembelajaran. Orangtua pun bisa membuat suasana yang hampir sama dengan kebiasaan saat bersekolah, misalnya menggunakan seragam atau pakaian rapi yang disukai anak, membawa buku, tas, atau perlengkapan sekolah lainnya.
“Bisa menggunakan gawai, tapi jangan sampai orangtua yang tidak punya gawai tidak bisa memberi pendidikan pada anaknya. Penggunaan gawai pun mutlak didampingi orangtua agar anak tidak ketergantungan pada gawai,” tegasnya.
Meski pembelajaran dilakukan dengan pendampingan orangtua, namun menurut Atikoh, guru juga mesti memberikan panduan kepada orangtua terkait pembelajaran tematik. Baik agama, moral, fisik dan motorik, kognitif, dan sebagainya.
Dia menunjuk contoh, pengenalan sayuran bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan. Dari aspek agama, dijelaskan jika sayur merupakan ciptaan Tuhan yang harus dipelihara dengan baik. Dengan begitu, diharakan muncul empati jika tanaman saja harus disayang, apalagi sesama manusia.
Dari aspek fisik dan motorik, anak dapat diajarkan cara memasak sayur, sambil dijelaskan manfaatnya bagi tubuh. Pembelajaran kognitif bisa dengan mengenalkan warna dan bentuk sayuran, kemudian secara sosial emosional anak diberi pemahaman tanggung jawab menanam sayuran. Untuk menambah keterampilan berbahasa, anak bisa diminta menceritakan kembali apa yang sudah diajarkan, aktivitas keseharian, dan sebagainya.
Atikoh pun memberikan tips agar pendampingan belajar di rumah berhasil. Antara lain, mengajak anak berdiskusi, membangun komunikasi dengan guru, misalnya bagaimana pola pembelajaran sehingga anak tak kehilangan ritme saat di sekolah. Bangun pula komunikasi dengan orangtua, menciptakan suasana riang saat belajar, serta mengajak seluruh anggota keluarga untuk memberikan support, sehingga anak tidak merasa sendiri.
“Pandemi justru waktu terbaik orangtua untuk menggali potensi anak, sekaligus belajar life skill. Misalnya, anak yang tadinya tidak pernah menyapu, diajak untuk menyapu, mengepel, atau lainnya,” beber ibu satu anak ini.











Tinggalkan Balasan