DeParenting.com – Orang tua tak perlu terburu-buru merasa stres saat menemani anak belajar. Pembelajaran daring ternyata memiliki dampak positif yang besar bagi tumbuh kembang anak dan keharmonisan keluarga.
Namun, untuk mencapai itu, orang tua mesti paham bagaimana peran serta cara melakukannya.
Sejauh ini, banyak terdengar keluhan orang tua saat menemani anak belajar. Mereka merasa stres. Bahkan ada yang kewalahan dan jengkel maka tak jarang melakukan tindak kekerasan pada anak. Tingkat stres orang tua pun lebih tinggi.
Padahal jika dilihat dari sudut pandang dokter spesialis anak, pembelajaran jarak jauh memiliki dampak positif. Orangtua menjadi lebih dekat dengan anak dan memahami kejiwaannya. Jadikan waktu bersama anak untuk menjadi pendengar, mengajak anak bermain, bercerita, dan kebersamaan lain.
Artinya, saat di rumah, orangtua memiliki waktu penuh untuk anak-anak, agar anak paham jika aktivitas di luar untuk bekerja.
Bagaimana menyiasati anak yang malas belajar? Dokter spesialis anak RS Columbia Asia Semarang, Lidya Diah Wulandari Sidharta membagikan kiat-kiatnya.
1. Beri kelonggaran jam belajar
Lidya mengingatkan, orangtua mestinya menyadari jika terkadang belajar membosankan. Tak selamanya belajar itu menyenangkan. Untuk itu, tidak ada salahnya jika sekali-sekali anak diberi kelonggaran dalam belajar.
“Tidak perlu dipaksa karena anak bisa stres. Apalagi sampai melakukan kekerasan pada anak,’’ katanya.
2. Luwes dekati anak
Orang tua mesti sudah hafal bagaimana karakter anak-anaknya. Maka Teknik pendekatan untuk mengajak anak belajar juga berbeda-beda pula. Bisa dengan bermain dulu misalnya. Yang jelas, hal ini akan menentukan kelancaran proses pembelajaran.
3. Orang tua boleh ‘’me time’’ dulu
Orang tua yang sudah disibukkan dengan pekerjaan dan ditambahi beban untuk mengajar memang menambah tingkat stres. Apalagi jika itu dilakukan tiap hari. Ditambah menghadapi tipikal anak yang membangkang. Maka ‘’me time’’ bisa menjadi strategi untuk menenangkan diri. Sebelum keesokan harinya menemani anak kembali seperti biasanya.
‘’Jika orangtua bosan, boleh bepergian tapi tetap dengan protokol kesehatan yang ketat. Tapi, untuk anak kurang dari dua tahun, sebaiknya jangan dibawa ke mana-mana,” ujarnya.
4. Call a friend
Diakui, sejumlah orangtua merasa kewalahan. Apalagi, jika kedua orangtua bekerja, sehingga waktu untuk menemani anaknya hanya pada malam hari. Dalam hal ini, mereka bisa meminta keringanan dari pihak sekolah, untuk bisa mengirimkan tugas pada malam hari, atau keesokan harinya.
“Ibu perlu ektra keras menjadi guru, namun tetap menjadi ibu, dan tetap mendampingi. Kalau orangtuanya pulang malam terus, tidak bisa mendampingi, terpaksa ‘call a friend’, minta tolong orang lain untuk membantu anak-anak, tapi jangan diserahkan seluruhnya. Jika merasa stres karena terbebani, konsultasikan kepada psikiater, orang terdekat, atau kepada tokoh agama,” jelasnya
Menurutnya, saat ini pembelajaran daring masih menjadi yang terbaik, untuk mencegah penyebaran Covid-19. Namun, memang dibutuhkan kerja sama yang baik antara orangtua dan guru, termasuk kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi sekarang.
Hal senada juga disampaikan Ketua TP PKK Jateng Atikoh Ganjar Pranowo. Menurutnya, anak adalah amanah, titipan dari Tuhan. Berterimakasihlah atas kepercayaan yang diberikan Tuhan, sehingga, jangan lakukan kekerasan atau tindak intimidatif pada anak.
Dia mengatakan, pembelajaran jarak jauh hendaknya benar-benar dimanfaatkan orang tua untuk lebih dekat dengan anaknya. Namun, perlu diperhatikan, saat pulang ke rumah, orangtua harus membersihkan diri sesuai protokol kesehatan, sehingga tidak menjadi pembawa virus.
“Kualitas waktu belajarnya bisa lebih diperhatikan. Jangan lakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), karena kita lagi diuji kesabarannya. Cara paling gampang dan efektif, perbanyak doa. Allah tidak akan memberi ujian yang melampaui kemampuan umatnya,” kata Atikoh.











Tinggalkan Balasan