DeParenting.com – Saya dan istri suka buku. Menular ke anak-anak. Buku-buku ringan bergambar – minim kosakata menjadi idola mereka. Tapi, mengajak betah membaca buku anak, sama susahnya saat memintanya minum obat ketika sakit. Meski manis rasanya, tetap saja susah.
Kami butuh lingkungan yang mendukung agar anak terbiasa dengan buku. Koleksi buku yang bejibun saja tak cukup rupanya. Sekali buka, cas cis cus… tutup lagi. Terpaksalah kami meracuni anak-anak dari keluarga lain dengan buku. Maafkan kami.
Sekitar setengah tahun ini kami membuka mini library setiap hari Ahad. Tempatnya? Di car Free Day Bukit Kencana Kota Semarang. Jika dulu lokasinya hanya di lapangan, kini panitia CFD mengakomodir dengan memberikan satu stan lapak. Bahkan kalau pas longgar, bisa dua lapak. Tepatnya di samping lapak gombalan dagangan kami.

Sebagian besar buku koleksi pribadi kami pajang. Tentu buku anak-anak. Tentang science, agama, belajar membaca, peternakan, dongeng, kartun, komik dll. Alhamdulillah… anak-anak tertarik. Bukan hanya anak-anak tetangga yang ikut datang tapi juga anak pelapak lain dan pengunjung. Bapak-emak mereka juga rela menunggui. Kami juga menyediakan brik lego, puzzle, kertas gambar dan mewarnai, crayon, spidol. Semuanya free…
Beberapa bulan berjalan, dua anak yang dulunya rajin banget datang dan membaca buku kini hilang tak pernah datang lagi. Salah satunya bernama Hamzah, yang dulu mini library hampir tutup pun dia tetap memegang buku dan setia membaca. Saya masih ingat di tanganya buku komik robot.
Bagaimana dengan anak-anak lain? Memang masih ada beberapa yang datang tapi cenderung bermain lego atau mewarnai. Sedikit yang duduk tenang membaca.
Sekitar satu setengah bulan lalu, Istri Wali Kota Semarang, Tia Hendrar Prihadi mampir ke stan kami saat ada acara di lokasi. Melihat sejumlah buku-buku dan sedikit membacanya. Ia mengapresiasi dan memberikan bantuan. Kami yang diminta membelikan buku-buku baru.


Dengan tambahan koleksi buku yang cukup banyak, besar harapan kami agar anak-anak berkumpul, duduk, diam membaca. Tapi ternyata saya salah. Pekan-pekan berikutnya malah sepi. Paling hanya 3-4 anak. Dua anak kami ditambah dua lainnya anak pelapak dan tetangga.
Sebenarnya banyak orang tua yang membawa anak melintas di depan stan mini library. Melihat dan lewat begitu saja. Berhenti pun tidak. Orang tua tak tertarik, apalagi anak-anaknya.
Mungkin kami butuh dosis lebih tinggi, agar racun yang kami sebarkan lebih manjur.
#Thanks to Bu Tia Hendrar Prihadi.
#Thanks to Panitia CFD Bukit Kencana.
Salam
Foto-Foto Mini Library:












Tinggalkan Balasan