DeParenting.com
  • Login
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga
No Result
View All Result
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga
No Result
View All Result
DeParenting.com
No Result
View All Result
Home Article

Jangan Memaksa Ulat Melompat

Satu kemampuan yang dipelajari secara profesional akan lebih berharga daripada mengetahui banyak hal namun hanya rata-rata. Salam.

Hanung Soekendro by Hanung Soekendro
17 Mei 2020
in Article
0 0
0
Jangan Memaksa Ulat Melompat 1
4
SHARES
124
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

DeParenting.com – Tarzan, si penguasa hutan hendak pergi ke kota. Ia bosan dengan kehidupan di hutan. Setelah membulatkan hati, ia memanggil semua hewan di hutan untuk memilih siapa yang pantas menjadi penggantinya. Menjadi penguasa hutan.

 

RekomendasiBaca

Hasil Riset: Skil Teknologi Bagus Akan Miliki Pekerjaan Ideal

WOW! Ini Jumlah Pemuda di Jateng, Terus Nambah Tiap Tahun

Jalan Kaki Rembang-Semarang 5 Hari, Lapor Pencemaran Lingkungan ke Ganjar Pranowo

Auo….. Tarzan memanggil sejawatnya. Macan, gajah, kuda, kudanil, babi hutan, ular, kodok, capung , kelelawar, singa, jerapah, ikan, ulat, zebra datang. Berkumpul di tanah lapang di dekat sungai.

Si Tarzan pun mengutarakan niatnya. Semua sedih tapi merelakan. Namun untuk menentukan siapa yang pantas menggantikannya cukup rumit.
Semula Tarzan memberikan syarat pada penggantinya haruslah bisa teriak paling keras. Tapi syarat itu ditolak ular yang hanya bisa mendesis, dan kelelawar yang hanya bisa bersuara cit…cit…. Sementara ikan hanya bisa berkecupak di air. Karena jika dipaksakan, ular, kelelawar, dan ikan akan terlihat bodoh seumur hidupnya.

Syarat diganti. Harus pelari yang cepat. Kodok dan ulat menolak. Harus bisa melompat cepat dan jauh, jerapah menolak. Syarat cepat memanjat pohon juga dianggap tak adil oleh ikan dan kodok.

Karena tak ada yang sanggup menggantikannya, Tarzan berpikir ulang untuk meninggalkan hutan yang sudah menjadi rumahnya.

Ayah bunda, cerita itu sedikit banyak menggambarkan bagaimana tak adilnya sekolah formal bagi anak-anak sekarang. Si Farah yang suka dan pandai menyanyi, harus bisa mengerjakan tes soal-soal sejarah. Si Latif yang menyukai hewan-hewan, dipaksa harus bisa mengerjakan soal cerita perkalian. Bahkan tak hanya satu atau dua mata pelajaran yang sebenarnya tak mereka minati, tapi di paksa untuk dikerjakan dengan sempurna.

Baca juga:  21,2 Juta Warga Jateng Akan Divaksin. Siapa Duluan? Ini Urutan Berdasarkan Profesinya.

Padahal, kita tahu seorang Usain Bolt yang berulang kali juara lari itu tak akan bisa menjadi Ian Thorpe yang punya gaya khas saat berenang. Atau seorag Buffon bisa jadi tak akan bisa memaksimalkan potensinya jika dipaksa menjadi Ronaldo. Meski sama-sama bermain sepakbola, namun mereka memiliki kemampuan berbeda.

Seorang anak yang dipaksa menguasai semua mata pelajaran sepertinya akan membuat dia tak nyaman di sekolah.

Satu-satunya alasan dia mau sekolah bisa jadi karena hanya ingin bertemu dengan kawan-kawannya. Bukan tertarik dengan mata pelajaran. Belum lagi jika guru yang mengajarkan membosankan. Lonceng bel pulang sekolah akan terdengar sangat lama.

Lalu bagaimana untuk adil pada pendidikan anak, spesifiklah. Tidak masalah jika menyekolahkan anak di sekolah formal. Tapi ingatlah, nilai 8,9, bahkan 10 bukanlah tolok ukur keberhasilan pendidikan anak. Melainkan seberapa paham dirinya akan pelajaran yang di dapat. Fokuskan si anak pada satu atau dua materi yang disukai dan berikan perhatian lebih. Maka ia akan expert.

Anak yang suka ngegame, bisa diarahkan jadi game developer. Suka makan, bisa jadi food tester. Apalagi kalau suka ngopi, banyak tuh yang butuh tester kopi. Suka utak atik komputer, bisa jadi progammer.

Ingat, satu kemampuan yang dipelajari secara profesional akan lebih berharga daripada mengetahui banyak hal namun hanya rata-rata.

Salam.

Tags: homeschoolingkemampuan anakpendidikan anak
Previous Post

Tipe-Tipe Parenting, Cocok Yang Mana?

Next Post

Temukan Potensi, Tanya Cita-Citanya dan Arahkan

Hanung Soekendro

Hanung Soekendro

Related Posts

Ilustrasi metode pendidikan Waldorf. (DeParenting/Pixabay)
Homeschooling

Metode Pendidikan Waldorf, Sekolahnya Anak Petinggi Google, Apple, Yahoo

21 April 2021
Ilustrasi emosi anak. (DeParenting/Pixabay)
News

Ajari Anak Etika Medsos! Ini Bahaya Ujaran Kebencian Bagi Anak

15 April 2021
Keluarga homeschooling. (DeParenting/phi.or.id)
Homeschooling

Bagaimana Menjalankan Homeschooling? Simak Cerita Keluarga Homeschooler Ini

19 Februari 2021
Gaza memasak. Foto: dokumentasi pribadi.
Ruang Keluarga

Cita-Cita Jadi Chef dan Nonton MasterChef, Bocah Semarang Ini Malah Jadi Takut Masak

15 November 2020
Ilustrasi kegiatan belajar. Foto:jatengprov.go.id.
Homeschooling

Homeschooling Menurut Kemendikbud, Legalitas dan Tata Cara

29 Oktober 2020
Deddy Corbuzier. Foto: IG mastercorbuzier.
Homeschooling

Deddy Corbuzier; Berhenti Sekolah Oke, Tapi Jangan Berhenti Belajar

17 November 2020
Next Post
Temukan Potensi, Tanya Cita-Citanya dan Arahkan 2

Temukan Potensi, Tanya Cita-Citanya dan Arahkan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Deparenting
    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.
  • Kata Pengantar
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2021 DeParenting - Berbagi cerita parenting dan home schooling.

No Result
View All Result
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga

© 2021 DeParenting - Berbagi cerita parenting dan home schooling.

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist