DeParenting.com
  • Login
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga
No Result
View All Result
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga
No Result
View All Result
DeParenting.com
No Result
View All Result
Home Article

Orang Tua, Berdamailah Dengan Masa Lalumu

Memilihkan pendidikan untuk anak tak hanya soal bagus atau tidaknya sekolah, mahal atau murah biayanya, ngetren atau konven, memiliki lapangan pekerjaan luas atau sempit.

Hanung Soekendro by Hanung Soekendro
17 Mei 2020
in Article
0 0
0
Pinterest

Pinterest

5
SHARES
71
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

DeParenting.com – Seorang anak datang pada emaknya. Ia mengadu. Bercerita soal pembicaraan dengan bapaknya barusan. Si anak menangis tersedu. Sesekali menyeka air mata, ia bercerita. “Bapak ingin aku mendaftar di Jurusan kedokteran,” kata si anak dengan sesenggukan.

Ia benar-benar tak mau menuruti kata bapaknya kali ini. Menjadi dokter bukan cita-citanya. Menghafal rumus-rumus, melakukan ekperimen, membuat laporan sama sekali bukan dunianya.

RekomendasiBaca

Hasil Riset: Skil Teknologi Bagus Akan Miliki Pekerjaan Ideal

WOW! Ini Jumlah Pemuda di Jateng, Terus Nambah Tiap Tahun

Jalan Kaki Rembang-Semarang 5 Hari, Lapor Pencemaran Lingkungan ke Ganjar Pranowo

Ia tahu betapa susahnya mengikuti materi pelajaran yang sama sekali tak disuka. Seperti saat duduk di bangku SMA. Sebenarnya ia lebih memilih SMK. Komputer dan game adalah dunianya.

Sejak kecil ia menyukai game. Orang tuanya jugalah yang mengenalkan. Saking keranjingannya dengan game, kini ia ingin membuat game sendiri. Game yang lebih menantang dari point blank, crossfire, red cliff, atau empire.

Membuat karakter sendiri, field permainan, hingga aturan yang lebih menarik. Itulah dunianya. Ia tahu betul kejenuhan dan keinginan para gamers di komunitasnya.

Emaknya bingung. Di satu sisi ia ingin membiarkan anaknya mengeksplore diri. Melakukan yang disukai. Di sisi lain, ia tahu jika suaminya mengidamkan salah satu anaknya menjadi dokter. Cita-cita masa muda yang tak kesampaian.

Suaminya sering bercerita. Dokter adalah tujuannya. Sayang, biaya yang mahal menjadikannya drop out. Orang tua suaminya dulu tak mampu menyekolahkan.

Kini, biaya siap. Namun anak yang tidak siap.

Memilihkan pendidikan untuk anak tak hanya soal bagus atau tidaknya sekolah, mahal atau murah biayanya, ngetren atau konven, memiliki lapangan pekerjaan luas atau sempit.

Baca juga:  Orang Tua Zaman Now, Anak Dimasukkan Daycare dan Dirinya Sibuk Kerja

Yahbun perlu tahu apa yang diinginkan anak. Mengetahui kesukaan dan pasionnya. Tanpa pasion, sekolah maupun bekerja, ibarat kerja rodi. Malas melakukan karena tertekan. Celakanya, jika sekolah atau bekerja terasa tertekan maka tak akan muncul potensi terbaiknya. Itu persoalan terbesarnya.

Yahbun harus meyakini jika semua pekerjaan baik. Soal penghasilan, tinggal profesionalisme seseorang. Misal, pemain sepak bola kelas medioker yang hanya bermain di liga 2 Indonesia tentu akan menerima gaji lebih rendah dari pemain di liga 1 Indonesia. Pemain Indonesia yang memiliki skill tinggi biasanya juga enggan main di liga 1, liga teratas di Indonesia. Mereka memilih main di liga negara lain yang lebih tertata, minimal di Malaysia.

Evan Dimas Darmono misalnya. Ia akan menerima gaji 83.000 ringgit per bulan (setara Rp 269,7 juta) di Selangor FC musim depan. Padahal, pemain yang mengantarkan Bhayangkara FC juara liga 1 tahun 2017 ini hanya digaji Rp 10 juta per bulan. Beda jauh. Beda lagi dengan gaji pemain sepakbola di English Premiere League (Liga Inggris) atau Bundesliga Jerman.

Kadang orang tua suka dokter, anak ingin jadi gamer. Orang tua suka polisi, anak suka jadi politisi. Orang tua suka PNS, anak suka wirausaha. Ibarat mimpi, jangan pernah membangunkan anak dari tidurnya sebelum mimpi itu selesai. Jangan pernah mematahkan keinginan anak sebelum mereka berusaha.

Ingat, anak kita bukanlah kita. Dia memiliki dunia dan cita-citanya sendiri. Biarkan anak menjadi dirinya sendiri. Orang tua cukup mengarahkan, tak perlu memaksakan.

Salam.

Tags: keinginan orang tuapendidikan anak
Previous Post

Tips Menangani Si Bandel di Usia Toddler

Next Post

Antara Sekolah Terpadu, Alam, dan Negeri

Hanung Soekendro

Hanung Soekendro

Related Posts

Ilustrasi metode pendidikan Waldorf. (DeParenting/Pixabay)
Homeschooling

Metode Pendidikan Waldorf, Sekolahnya Anak Petinggi Google, Apple, Yahoo

21 April 2021
Ilustrasi emosi anak. (DeParenting/Pixabay)
News

Ajari Anak Etika Medsos! Ini Bahaya Ujaran Kebencian Bagi Anak

15 April 2021
Ratu Elizabeth II. Foto: Pixabay.
Lifestyle

Bunda, Ini 5 Pola Asuh Ala Ratu Inggris yang Bisa Dicontoh

11 Oktober 2020
Saat Orang Tua Sebut 9, Anak Melihat Angka 6 1
Homeschooling

Saat Orang Tua Sebut 9, Anak Melihat Angka 6

22 Mei 2020
Jangan Memaksa Ulat Melompat 2
Article

Jangan Memaksa Ulat Melompat

17 Mei 2020
Next Post
Antara Sekolah Terpadu, Alam, dan Negeri 3

Antara Sekolah Terpadu, Alam, dan Negeri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Deparenting
    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.
  • Kata Pengantar
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2021 DeParenting - Berbagi cerita parenting dan home schooling.

No Result
View All Result
  • News
  • Artikel
  • Tips
  • Gaya Hidup
  • Homeschooling
  • Ruang Keluarga

© 2021 DeParenting - Berbagi cerita parenting dan home schooling.

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist